Cara mengajar guru di era generasi z hanya jadi fasilitator seperti ditawakan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Foto: istimewa

Generasi milenial atau yang kerap disebut sebagai Gen Z ini adalah generasi yang lahir di zaman teknologi dan informasi. Pada umumnya anak-anak milenial ini lahir di tahun 1995 ke atas.

Generasi ini adalah generasi yang berlimpah secara informasi, dan harusnya lebih berwawasan dan kaya akan data karena mencarinya mudah. Gen Z ini terlahir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang demikian pesat.

Karena itu, cara ajar untuk mendidik anak-anak ini pun harus dibedakan dari sistem yang terdahulu. Jika generasi sebelumnya cocok dididik dengan pola otoriter, maka generasi milenial ini justru sebaliknya.

Mereka dibesarkan dengan pola-pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi milenial ini cenderung  lebih suka kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan, rasional.

Perubahan pola perilaku pada generasi ini seperti kritis, kreatif, terbuka, mandiri, suka tantangan, adalah beberapa hal penting yang kerap menjadi batu sandungan bagi para pengajar kolot.

Sudah bukan zamannya lagi seorang guru ‘menyuapi’ seluruh materi yang ada di buku, tanpa siswa perlu tahu apa manfaatnya untuk mereka. Genereasi milenial tidak perlu lagi disuapi dengan pelajaran teoritis.

Mereka sudah pandai membaca melalui media dan punya wawasan yang luas. Sebagai generasi multimedia, mereka lebih suka diberikan kesempatan kolaborasi, berbicara, bertindak, dan terlibat.

Peran multimedia, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri memungkinkan generasi ini untuk mengkritisi pengajar.  Karena terbiasa kemudahan teknologi ini juga yang menyebabkan Gen Z cenderung tidak sabaran, ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instan.

Hal ini juga menjadi tantangan bagi pengajar. Masa-masa yang produktif bisa menjadi solusi bagi anak-anak jenis ini. Melibatkan siswa dalam sebuah tugas atau proyek sekolah secara langsung bisa jadi cara untuk melatih kesabaran kaum milenial.

Berbagai proses yang mereka jalani menjadikan generasi ini juga sadar kalau tidak ada sesuatu yang instan. Kuncinya adalah pahami, kenali, dan sabar. Pengajar harus sabar dan pandai berinteraksi dengan anak-anak milenial. Karena selain pandai, generasi ini juga cenderung kritis dan realistis.

Untuk menyikapinya, guru mesti banyak memberikan kelonggaran berpikir pada anak didik. Biarkan mereka berpendapat dan bertanya sesuai dengan pengetahuanya. Bila ada hal yang kurang tepat, ada baiknya jika pengajar membuka ruang diskusi.

Pendiri GSM Muhammad Nur Rizal mengatakan, di sinilah kemudian tugas para pengajar harus mulai diubah. Melalui GSM semua itu dapat terwujud. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) melakukan transformasi pola pendidikan formal menjadi lebih kolaboratif, inklusif, dan menarik guna mendorong kemampuan diri siswa.

“Pendidikan selalu menjadi sendi krusial dalam kebangkitan atau kemajuan sebuah bangsa. Jika semangat yang dibangun di pendidikan adalah kompetisi berorientasi nilai, bangsa ini akan terjebak dalam kultur saling mengalahkan. Padahal, untuk menghadapi tantangan masa depan yang kian rumit, kita harus bekerja sama, berkolaborasi,” ujar Nur Rizal di Jakarta, baru-baru ini.

Kultur kolaborasi ini, nilai Nur Rizal, bisa ditanamkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yakni dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik. Penyediaan ruang semacam ini akan memungkinkan anak untuk tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial.

“Ketimbang mementingkan ego, generasi muda akan terbiasa untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah bersama. Keterampilan semacam inilah yang dibutuhkan milenial,” tandasnya.

GSM merumuskan konsep sekolah masa depan yakni sekolah menyenangkan yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak. “GSM mengubah peran seorang pengajar dari yang biasanya sebagai pendikte, berubah menjadi fasilitator,” terangnya.

Terdapat tiga aspek dasar keterampilan manusia era digital yang dibangun melalui program GSM ini yakni: (1) pola pikir terbuka, (2) kompetensi abad 21 berupa berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif dalam menemukan cara mengatasi masalah, serta (3) karakter moral dan etos kerja.

“Ketiga poin tersebut sangat cocok dengan karakteristik generasi milenial yang kritis, kreatif, terbuka, dan bebas. Anak-anak milenial butuh diberikan kebebasan dalam berpikir dan mengelola informasi,” ulasnya.

Memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk melakukan riset mandiri, lanjut dia, tidak sama dengan lepas tangan. “Di sinilah letak peran pengajar, yaitu sebagai fasilitator. Tugas Fasilitator adalah memberikan klarifikasi dan mencegah siswa agar tidak sesat pikir, dan salah logika dalam mengambil sebuah kesimpulan dari proses belajar,” ujarnya.

Pengajar diharapkan dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa agar proses belajar-mengajar terwujud dengan baik dan menyenangkan. Perubahan pola pengajaran ke sistem yang lebih menyenangkan tersebut diharapkan dapat  membuat generasi milenial ini semangat untuk sekolah.

Berdasarkan hasil survey Programme for International Student Assessment (PISA), kutip Nur Rizal, sekitar 88% siswa di Indonesia setuju atau sangat setuju jika guru mereka menunjukkan kegembiraan dalam mengajar.

Di sebagian besar negara, siswa sekolah mendapat nilai lebih tinggi ketika mereka memiliki guru yang antusias dan pro aktif. Pola pengajaran oleh guru yang mengajak siswa berinteraksi dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Suasana belajar yang menyenangkan inilah yang pada akhirnya cocok dengan generasi milenial yang aktif dan kritis. Diharapkan dengan pola pembelajaran yang menyenangkan, generasi milenial dapat semakin bergairah saat belajar dan menghasilkan ide-ide yang baru. (net/lin)

 

sumber: indopos.co.id

LEAVE A REPLY