Pembicara workshop penulisan pantun Betawi Rachmat Sadeli. foto: heryanto

Si jantuk pergi beli kerang

Pulangnye beli kue talam

Mau masuk rume orang

Jangan lupe beri salam

Bicara tentang pantun Betawi, maka akan afdol (lebih baik) rasanya jika kita memahami definisi terlebih dahulu tentang istilah pantun. Pantun sangat erat  kaitannya dengan hidup orang Betawi.

Pantun digunakan dalam percakapan maupun upacara adat istiadat untuk menyampaikan maksud secara tersirat. Pantun juga menjadi bagian dalam upacara palang pintu masyarakat Betawi.

Agar tradisi pantun tidak punah, digelarlah lokakarya pantun Betawi atau acara Pelatihan Menulis Pantun dengan pembicara Rachmad Sadeli, seorang pendiri Pustaka Betawi dalam rangkaian Pekan Sastra Betawi (PSB) Lokalitas Metropolitan di Taman Ismail Marzuki (TIM) kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa siang (6/8/2019).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kutip Sadeli, pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

“Sesuai pernyataan di atas pantun bagian dari sastra (puisi) lama yang tujuannya sebagai alat komunikasi dengan ragam tujuan. Pantun dapat menjadi sarana menyampaikan nasehat, memberi hiburan bahkan dapat dijadikan alat kritik sosial, tanpa harus melukai perasaan orang yang mendengarnya. Itulah salah satu kelebihan pantun,” ujar Sadeli dihadapan 30 peserta latihan terbatas.

Penelitian tentang pantun telah dilakukan sangat lama, lanjut Sadeli, hasilnya menunjukkan bahwa pantun merupakan produk yang sangat luas sebarannya di Nusantara tanpa terbentur strata sosial dan agama. Ini menurut Maman Mahayana, dalam buku Pantun Betawi, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (2008):

Prof. Dr. R.A. Hoesien Djajadiningrat dalam pidatonya pada Peringatan 9 Tahun berdirinya sekolah Hakim Tinggi di Betawi, 28 Oktober 1933, mengungkapkan sejak tahun 1688 pantun telah banyak menarik perhatian peneliti Barat.

Dalam buku Bloemlezing Uit Het Klassiek Maleis atau Bunga Rampai Melaju (Melayu) Kuno karya Dr. M.G. Emeis (1949) dikatakan, pantun itu merupakan seni ra’jat asli. Tiap-tiap orang harus dapat menjatakan isi hatinja dalam pantun. Baik yang tua-tua waktu berpidato, bersenda gurau atau menyindir. Buat anak muda untuk menjatakan kasihnja.

“Selain pantun Melayu yang sudah sohor di Nusantara ada banyak daerah yang juga menggunakan pantun dengan bahasa wilayahnya. Di Jawa ada wangsalan dan parikan, Tapanuli (Batak) menyebutnya ende-ende, Madura menyebutnya paparegan,” kutip mantan wartawan ini.

Sedangkan masyarakat Betawi menyebutnya pantun dengan memakai bahasa Melayu Betawi. Pantun yang merupakan puisi lama seakan terlihat sederhana, namun sesungguhnya punya kedalamnan makna kreativitas si pemantun. Apa yang menjadi ciri khas pantun Betawi?

“Salah satu yang menonjol dari pantun Betawi adalah kuatnya ciri yang menunjukkan ekspresi spontan. Hampir semua sampiran menunjukkan hal demikian. Boleh jadi ini merupakan semangat untuk membangun kesamaan bunyi: a-b-a-b,” terangnya.

Karena itu, lanjut dia, sampiran umumya tak ada kaitannya dengan isi (Buku Pantun Betawi, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, 2008). Berdasarkan jenis dan fungsinya, pantun ada yang berisi nasihat, humor, agama, rumah tangga, politik dan masih banyak lagi.

Maman Mahayana dalam Buku Pantun Betawi, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, 2008 membuat pantun ke dalam 32 jenis menurut tema dan isinya. Sedangkan Zahrudin Al Batawi (Buku 1500 Pantun Betawi, 2014) membagi 319 jenis pantun berdasarkan isinya.

Kekhasan pantun Betawi menurut Abdul Chaer dalam buku Folklor Betawi, terbitan Masup Jakarta (2012), jika wilayah Melayu lain pantun pakai pola a-b-a-b, pantun Betawi selain memakai a-b-a-b, ada pula yang memakai pola a-a-a-a. Baris pertama- kedua dari patun a-a-a-a tetap sampiran dan ketiga – keempat adalah isi.

Ujan gerimis aje

Ikan bawal diasinin

Lu ngape nangis aje

Bulan Syawal nanti dikawinin

Pantun di atas dengan pola a-b-a-b

Indung-indung kepale lindung

Ujan di sono di sini mendung

Anak siape pake kerudung

Mate melirik kaki kesandung

Pantun di atas dengan pola a-a-a-a

Dalam pertunjukkan lenong, pantun dipakai sebagai sarana membuka acara dan juga dalam dialog. Sebagai pembuka acara biasanya dinyanyikan. Nilah adalah pantun pembuka acara lenong seperti yang diulas dalam buku Kajian Bahasa Melayu Betawi, karya CD Grijns, PT Pustaka Grafiti (1991):

Tabe lah tuan, tabe lah nyonya

Tabe lah penonton sekaliannye

Kalo ada si jarum lah patah

Tiada lah boleh disimpen di dalem peti

Kalo ada kami salah berkata

Tidak lah boleh disimpen di dalam hati

Dalam menulis pantun dikenal juga teori Rima. Rima adalah Persamaan Bunyi Akhir Kata. Bunyi itu berulang secara terpola dan biasanya terdapat di baris akhir sajak. Tetapi kadang-kadang juga terdapat di awal atau di tengah baris.

“Oleh karena Rima berkaitan dengan baris, maka Rima sebuah pantun dilihat pada persamaan antara baris yang satu dengan baris yang lain. Dalam pantun, perulangan bunyi sudah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan atau menimbulkan efek ritme atau irama yang statis,” ulas dia.

Hal ini, kata dia, berkaitan dengan rima  yang berpola  a-b-a-b yang artinya bahwa bunyi akhir baris pertama dan ketiga harus sama. Demikian pula bunyi akhir baris kedua dan keempat.

Menurut bunyinya, Rima terbagi:

(1). Rima sempurna, ini terjadi bila seluruh suku akhir sama bunyinya. Dalam pantun, “Buka Palang Pintu” Rima Sempurna ini ditemukan pada

-Naskah 1.

PW: Dari banten ke pekalongan

Dari pekalongan banyak pohon rambutanye

Abang dateng beserte rombongan

Dari mane mau kemane dan ape tujuannye

Kata terakhir pada baris pertama hingga keempat memperlihatkan Rima Sempurna. Karena seluruh atau sebagian dari kata terakhir memiliki suku akhir yang sama bunyinya.

Suku akhir pada kata Pekalongan baris pertama berbunyi ngan. Bunyi akhir pada kata pekalongan sama dengan bunyi akhir pada kata rombongan baris ketiga. Demikian pula pada baris kedua suku akhir pada kata rambutannye, berbunyi nye. Bunyi akhir pada kata rombongannye sama dengan kata tujuannye.

“Dalam hal struktur pantun kilat memiliki struktur yang sama dengan pantun Melayu. Kemudian ada Rima Tak Sempurna, ini terjadi bila sebagian suku akhir sama bunyinya. Dalam pantun “Buka Palang Pintu”, Rima Tak Sempurna ini ditemukan pada

-Naskah 1

PW: Buah Atep Buah Kenari

Ambil pulang taruh di meje

Kalau hati abang dan rombongan udeh mantap mau masup ke mari

Aye minta satu, tolong nyanyiian lagu sike

Kata terakhir pada baris pertama sampai keempat memperlihatkan Rima Tak Sempurna. Karena sebagian dari kata terakhir memiliki suku akhir yang sama bunyinya. Suku akhir pada kata kenari baris pertama berbunyi ari. Bunyi akhir ari sama dengan kata pada ke mari baris ketiga.

Di sana gunung di sini gunung

Naik kepuncak jalan licin

Nah, abang punya palang pintu tanggung-tanggung

Jabrik palang pintu kereta luh rubuhin

Kata terakhir pada baris pertama sampai keempat memperlihatkan Rima Tak Sempurna. Karena sebagian dari kata terakhir memiliki suku akhir yang sama bunyinya. Suku akhir pada kata gunung baris pertama berbunyi ung.

Bunyi akhir pada kata gunung sama dengan bunyi akhir pada kata tanggung baris ketiga. Demikian pula pada baris kedua. Suku akhir pada kata licin berbunyi in, bunyi akhir pada kata licin baris kedua sama dengan bunyi akhir pada baris keempat rubuhin.

“Rima Tak sempurna dari pantun tersebut adalah baris pertama berbunyi ung, baris kedua berbunyi in, baris ketiga ung, baris keempat berbunyi in,” jelasnya.

Pantun Saat Iini

Bicara tentang pantun saat ini, ada hal yang menggembirakan, yaitu banyaknya berdiri grup Palang Pintu Betawi yang di dalamnya menggunakan sarana pantun buat berkomunikasi.

Hal ini, nilai Sadeli, jelas akan merawat pantun agar terus terjaga. Walaupun berkembang, namun yang patut dijaga dalam berpantun adalah pilihan kata ketika memantun. Sehingga pantun yang tujuannya mulia dan bermakna itu tepat sasaran.

Menurut Yahya Andi Saputra, Budayawan dan Sejarawan Betawi, pantun menjadi penting dan strategis karena merupakan bentuk media komunikasi untuk menghindari penggunaan dialog sehari-hari yang kemungkinan penuh dengan kata-kata kasar.

Jadi fungsi pantun pada upacara itu bertujuan memperhalus bentuk dialog sehingga suasana yang dibangun pada saat itu adalah suasana saling hormat-menghormati dan sakral, sambil tidak menghilangkan kesan meriah.

Selain adanya palang pintu hal menggembirakan lainnya adalah adanya aplikasi di smartphone untuk pantun Betawi. Kita dapat mendowload di Google Play secara gratis dengan memasukkan kata kunci Pantun Betawi.

“Dalam penjelasanya aplikasi pantun di Google Play adalah hasil pengumpuan pantun beberapa pantun terbaik para anggota komunitas Pantun Betawi Facebook. Sangat lucu dan menghibur. Tertulis pembuatanya Abet TNB,” kutipnya lagi.

Lagu Pantun Nasehat

Kalaulah kail panjang sejengkal.

Jangan lautan hendak diduga.

Kalaulah pandai gunakan akal.

Budi pekerti gunakan juga.

Sepandai-pandai tupai melompat.

Adakalanya jatuh di tanah.

Siapa pandai, jujur dan cepat.

Orang pun kasih walau dimana.

Kalau tiada, ada berada.

Masa tempuak bersarang rendah.

Kalau turuti ayah dan bunda.

Selamat badan hidup di dunia.

(Pantun Nasehat – M Mashabi)

Pantun Nasehat

A:         Tegak rumah karena sendi,

Hilang sendi rumah binasa

Tegak bangsa karena budi,

Hilanglah budi bangsa binasa

B:         Bunga berkuncup daunnya rindang,

Tumbuh di halaman berangkai-rangkai

Jika menjadi orang terpandang,

Jaga kelakuan,jaga perangai

A:         Gunung Bintan lekuk di tengah,

Gunung Daik bercabang tiga

Hancur badan di kandung tanah,

Budi baik di kenang juga

B:         Bunga melati bunga di darat,

Bunga seroja di tepi kali

Hina besi karena karat,

Hina manusia tidak berbudi

A:         Tenang-tenang air di laut,

Sampan melaut mudik ke tanjung.

Hati terkenang mulut menyebut,

Budi baik rasa wajib junjung.

B:         Kalau menebang si pokok jati,

Papan di Jawa dibelah-belah.

Kalau hidup tidak berbudi,

Umpama pokok tidak berbuah.

Sumber: Mari Berpantun Karya Tusiran Suseno

Pantun Jenaka

A:         Pohon groak di tepi rawa

Tempat engkong tidur beradu

Lagi nangis nyak ketawa

Ngeliat engkong maen gundu

B:         Ambil sesawi busuk sebelah

Tukang tirai di bukit duri

Gilanya kelewat salah

Sebagian petai makan sendiri

A:         Asal kapas menjadi benang

Benang ditenun menjadi kain

Sudah terlepas jangan dikenang

Sekarang jadi si orang lain

B:         Jadilah benang asalnya kapas

Barulah jadi si kain layar

Siapa bilang sudah dilepas

Utang mertua belon dibayar

A:         Jadi baginda orang budiman

Bersama menteri dalam istana

Kalau jadi orang beriman

Jangan mendengki jangan menghina

B:         Menjemur kain di atas bambu

Kain dibawa dari Semarang

Jangan dibikin umpama tebu

Air ditelan ampas dibuang

A:         Rawa-rawa banyak buaye

Lengah dikit bias celake

Kalo mau tahu isi ati aye

Nyebur aje di kali Angke

B:          Pergi pulang ke Pelembang

Ketemu taoke juragan tape

Kalo seneng ama janda kembang

Tanya dulu cucunya berape

LEAVE A REPLY