Produksi NEO Theatre Indonesia pada Festival Teater Wahyu Sihombing, di gedung teater luwes IKJ, akhir pekan kemarin

by Azuzan JG

Jagad teater Indonesia itu unik. Seperti pelaku-pelakunya, seperti rakyatnya. Seperti manusia-manusia yang hidup didalamnya. Gado-gado. Campur aduk macam-macam aspek kehidupan di berbagai dimensi ruang dan waktu. Sejarah, etnik, religi, adat istiadat, tradisi, ilmu pengetahuan, politik, budaya modern kota, informasi digital multimedia, berbaur di dalamnya.

Sebagaimana gado-gado, lalu semua itu diberi saus istimewa yang kita namakan saja itu saus kebijakan penguasa. Dan jangan lupa. Saus kebijakan itu bisa berobah-obah sesuai selera siapa pemegang kuasa. Ada yang doyan saus kebijakan berdasar resep masa lalu, dan ada yang mencoba meramu saus saus futuristik untuk perobahan kearah yang lebih baik di masa

Kita sudah berada di abad yang makin mencengangkan ini. Perhitungan-perhitungan analog dan prinsip kerja manual semakin ditinggalkan. Hampir semua sistem kontrol kerja alat-alat produksi untuk kebutuhan hidup manusia itu beranjak dari sistem analog ke sistem digital. Transformasi data-data dalam sistem analog dipandang lamban melayani aktivitas kehidupan yang kian mengalami percepatan.

Demikian hebatnya perhitungan digital itu. Input data melalui gerbang-gerbang logika digital bisa berbeda-beda di output-nya. Bisa dimanipulasi untuk memperoleh gambaran-gambaran yang diinginkan dari suatu data yang diangankan. Data yang diangankan itu, yang pada hakekatnya tidak berhubungan langsung dengan realitas kemudian dijadikan sampling, dihadirkan dalam kehidupan nyata.

Begitulah. Jangankan untuk melayani kebutuhan hidup masa kini, kehidupan masa depan pun konon mudah diramalkan melalui tafsir statistik yang dihasilkan aplikasi digital di komputer rumahan. Darisitu konon bisa hampir persis diketahui mana baik dan mana buruk di masa depan. Masih ingat tentang ramalan statistik pemenang pilkada-pilkada? Kira-kira seperti itulah hasil kerjanya. Mencengangkan.

Lantas bagaimana dengan jagad teaternya? Bila teater merupakan pantulan pernak-pernik ekspresi dari kehidupan manusia-manusianya, bisakah itu diramalkan mana baik mana buruk untuk masa depannya?

Teater tidak bisa diwujudkan secara digital. Jagad teater adalah jagad manusia. Ada perhitungan-perhitungan yang bersandar pada moral, etika, estetika, yang tidak bisa hanya bersandar pada perhitungan logika. Di abad yang mencengangkan ini kehidupan kebanyakan manusia sudah tergantung pada perhitungan logika yang bisa dimanipulasi melalui proses digital.

Bila ingin meng-evakuasi teater, itu tidak lepas dari saus kebijakan pemegang kuasa. Mungkin disana letak soalnya. Si peramu saus atau kekuatan yang lebih besar daripadanya dan mengontrol itu semua memang menginginkan perhitungan-perhitungan dalam kehidupan manusia harus bersandar pada logika. Sebab moral, etika, estetika, tidak bisa dikontrol melalui perhitungan-perhitungan digital.

Kita hidup dalam keberagaman. Tapi banyak penguasa yang menyukai keseragaman. Sebab mengatur keseragaman lebih mudah ketimbang mengatur keberagaman. Mengatur kehidupan orang banyak dalam keseragaman, modus operandinya mirip perhitungan-perhitungan logika dan militeristik. Tidak perlu berpikir atau merenung panjang, cukup percaya pada perintah atasan, segera laksanakan.

Seperti memencet tombol enter di papan komputer, maka perintah pemrograman yang sudah dikerjakan sebelumnya akan memunculkan citra hasil sekejap mata. Urgen. Penundaan berarti error. Sebagaimana bahasa digital, hanya mengenal 2 hasil program: berhasil atau gagal. Dengan demikian berbagai hal dipandang urgen, bisa disegerakan. Bila kehidupan bisa di segerakan, dengan demikian kemajuan di berbagai bidang kehidupan– diandaikan – bisa disegerakan pula. Keblinger. Bagaimana implementasinya?

Masih segar di ingatan kita, betapa seorang hakim pernah menjatuhkan hukuman berat pada seorang nenek-nenek sebab ia mencuri ranting kayu jati untuk sesuap nasi. Tindakan sang hakim itu, mirip berdasar ramalan hasil perhitungan digital, tanpa pertimbangan kemanusiaan yang bersandar pada nilai-nilai moral. Tinggi rendah tindak laku kejahatan hanya dilihat secara statistik saja, tidak dilihat dari faktor penyebab kenapa tindak kriminal itu bisa terjadi. Kaum agamawan bukannya tidak menyadari bahaya ini.

Kebijakan berbau penyeragaman di semua lini itu, adalah membahayakan bagi kemanusiaan. Tetapi disisi lain, kebijakan penyeragaman, merupakan sebuah celah untuk mengembalikan manusia-manusianya dari yang cuma bersandar pada logika – untuk secara bersama-sama dan serempak (seragam) kembali sungguh-sungguh merasakan keberadaan Yang Maha Kuasa. Dengan kembalinya manusia menyadari adanya unsur rasa yang dimiliki manusia – diandaikan – berbagai aspek moral akan kembali pula dalam kehidupan manusia.

Maka tibalah kita di abad yang mencengangkan ini, disini : cara berpakaian, cara makan, cara percaya pada Yang Maha Kuasa berbenturan dengan cara meraih kuasa kuasa. Seragam. Lihatlah, begitu mudahnya kita menemukan berita keseragaman peristiwa itu di koran-koran. Mulai dari berita para pejabat publik melakukan kebaikan-kebaikan sampai berita-berita kriminal tindak laku kejahatan oleh mereka. “Adalah mengherankan” ujar Andrey Sergeev, seorang teman dari Eropa Timur. “Negeri anda anti komunis.

Tapi potret pejabat yang dipajang di spanduk-spanduk dan baliho itu, yang tersebar di seluruh kota di negeri anda, mirip propaganda pejabat di negara kami di masa kekuasaan komunis” Modus operandinya sama. Beda-beda tipis tapi hakekatnya sama saja. Disana, seorang tokoh publik perlu dipropagandakan, di iklan-iklankan kepada orang banyak, bahwa dia adalah orang baik. Dengan demikian, segala tindakannya harus dipandang baik dan patut dijadikan contoh tauladan. Orang banyak tidak boleh berpikir kritis sedikit saja: apakah orang yang potretnya dipajang itu tidak pernah ke toilet?

Gegar budaya dalam masyarakat yang alarm-nya sudah dibunyikan para ilmuwan 20 tahun lalu seperti tidak ditanggapi serius. Gegar itu terjadi ketika pergeseran budaya tidak terelakkan saat pola budaya masyarakatnya beranjak dari pola budaya agraris ke pola budaya masyarakat industri. Gegar budaya itu masih belum selesai. Disaat mental masyarakatnya belum sepenuhnya siap hidup di abad industri, sudah dijejali dengan pola hidup masyarakat informasi. Alarm itu, terus mengaung-aung. Itu juga isyarat agar manusia-manusia yang tersadar akan hal itu segera melakukan evakuasi untuk menyelamatkan yang lainnya. Tapi apa yang terjadi?

Di sini mungkin keunikannya. 20 tahun itu sudah berlalu. Meski masyarakatnya gegar atas suatu arus perobahan tapi mudah beradaptasi sedemikian cepatnya. Mereka seperti menyanyi di arus perobahan itu : sorong ke kiri sorong ke kanan, tralala lala la la…

Dan teaternya, apakah juga akan dibuat seragam? Tralala lala la la la la……

Pancoran Barat, 31.08.2017

LEAVE A REPLY