Irsyad Muchtar. foto: dokpri

Opini by Irsyad Muchtar

MEMBANGUN koperasi adalah membangun sebuah harga diri, kata Eyang Moer, begitu perempuan kelahiran Madura 1925 itu biasa dipanggil. Ia temparemental dan mudah meledak-ledak. Namun darinya negeri ini mengenal sebuah tata kelola koperasi yang fenomenal.

Saat merintis perkumpulan arisan pada 1954 pemilik nama lengkap Moersia Zaafril Ilyas ini memang tidak sedang mengajak orang untuk berkoperasi. Tetapi tak berarti awam soal wadah ekonomi itu. Selain akrab dengan dengan para tokoh pergerakan, seperti Tan Malaka dan Sutan Sjahrir, Moer juga pernah menjadi sekretaris Bung Karno semasa di Yogyakarta.

Dari Sjahrir,  perdana menteri RI pertama itu ia mengenal koperasi sebagai  saluran perjuangan perekonomian, tempat kepentingan orang banyak lebih mengedepan ketimbang kepentingan pribadi.

Di tahun penuh pergolakan itu, Moersia muda sudah memiliki segalanya, putri jaksa dan istri seorang dokter kandungan ternama di Malang sudah cukup jadi modal untuk menikmati hidup mewah. Tapi ia menempuh jalan yang tidak biasa, ia lebih suka blusukan ke pasar tradisional mengajak ibu-ibu membentuk perkumpulan arisan.

Ia meyakinkan ribuan wanita bahwa mereka bukanlah makhluk lemah penghias rumah tangga, melainkan juga pilar ekonomi keluarga. Bermula dari rintisan yang panjang melalui kelompok arisan itu, Moersia mendirikan koperasi wanita pertama, yang hingga kini tercatat dalam deretan koperasi besar di Indonesia.

Pola pinjaman dengan sistem tanggung renteng bahkan mengilhami Mohammad Yunus saat mendirikan Grameen Bank di Bangladesh. Mengacu pada pemahaman eyang Moer yang wafat pada 2017 lalu, koperasi besar tak melulu dilihat pada besaran aset dan omset ataupun anggotanya.

Baginya, esensi koperasi terletak pada proses dan interaksi anggota di dalamnya yang tidak hanya bicara materi dan keuntungan. Boleh jadi ia terpana dengan  Robert Owen (1771-1838), pemintal kapas di Manchester.

Hidup berkecukupan di usia muda dan memiliki pabrik pemintal pertama di Inggris, tak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir. Bagi Owen, peningkatan nilai tambah ekonomi karyawan di pabriknya menjadi yang utama. Visi sosial Owen belakangan mengilhami lahirnya koperasi modern pertama, The Rochdale Pioneers, pada 1844 di Inggris.

Kisah para penggagas koperasi di berbagai belahan dunia memang acap menampilkan aksi-aksi para tokoh dramatis. Seperti perintis Credit Union Raiffeisen di Jerman, revolusi putih Verghese Kuriyen di India atau Toyohiko Kagawa di Jepang.

Di Indonesia, gempita koperasi dikenang pada 12 Juli 1947 ketika berdiri Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI). Setahun berselang Gabungan Koperasi Seluruh Indonesia berdiri dengan perlindungan khusus oleh negara, sehingga GKBI mampu berkibar dan jadi kebanggaan koperasi secara nasional.

Ketika perlakuan khusus itu dicabut di masa Orde Baru, perlahan ikon koperasi itu surut. Di masa Soeharto anak emas koperasi bergeser ke sektor pertanian. Tetapi perlakuan terhadap koperasi tak lebih dari sekadar alat politik penguasa negara sepanjang sejarah negeri ini, yang butuh disapih, dibiayai dan dilindungi.

Maka ketika angka-angka besar itu menyeruak membelah kemapanan publik, sontak orang-orang bereaksi. Bagaimana mungkin koperasi bisa besar? Bukankah kerja orang koperasi hanya mengintai peluang kucuran dana murah pemerintah.  Memang nista, tetapi itulah bagian dari etos kerja bangsa yang terlalu lama terkungkung budaya feodal dan pahitnya penindasan rezim militer.

Kita teringat pada Bung Hatta ketika ia menulis dalam ‘Demokrasi Kita’ (1960), bahwa demokrasi politik saja tidak dapat melaksanakan persamaan dan persaudaraan. Di sebelah demokrasi politik harus pula berlaku demokrasi ekonomi. Kalau tidak manusia belum merdeka.  ***

Penulis: pengamat koperasi dan pemimpin redaksi Majalah Peluang

LEAVE A REPLY