Ketua Harian Dekopin Agung Sudjatmoko. foto: internet

Opini Dr. Agung Sudjatmoko, MM.

Perubahan merupakan keniscayaan yang akan terjadi. Perubahan memberikan makna bahwa ada kehidupan dalam organisasi. Era teknologi informasi pada revolusi industri 4.0 yang membawa percepatan yang dasyat disetiap sendi kehidupan masyarakat.

Keberhasilan bisnis saat ini bukan ditentukan oleh besar, kuat, atau banyaknya modal, tetapi lebih ditentukan “kelincahan” dan kecepatan menangkap peluang serta kemampuan adaptif terhadap perusahaan.

Kizmis Dalkir dalam Knwoledge Management Theory and Practice mengatakan, perubahan dipengaruhi oleh 4 faktor: globalisasi bisnis yang multi bahasa dan strategi, teknologi maju yang telah menyebar keseluruh pelosok dan telah merubah ekspektasi hidup yang radikal, serta adanya gejala corporate amnesia karena tidak kreatif dan adanya perubahan yang mendorong kebangkrutan perusahaan.

Berdasar pemikiran di atas, maka perubahan menjadi jalan terbaik untuk membangun keberlangsungan dan kesuksesan bisnis ke depan. Renald Kasali mengatakan, perubahan sangat menakutkan tetapi memberikan harapan.

Ini sangat betul karena perubahan membuat ketidaknyamanan, ketidakpastian, dan penyesuaian. Tapi dengan perubahan akan ada opportunity baru, produk/jasa baru, sasaran market baru dan strategi baru dalam berbisnis sehingga ada tantangan baru yang mendorong semua sumber daya perusahaan bergerak untuk meningkatkan kinerja bisnisnya.

Inilah esensi semua pelaku usaha harus melakukan perubahan di era revolusi industri 4.0 saat ini. Pelaku usaha termasuk koperasi jika tidak melakukan perubahan atas strategi, proses, produk/jasa dengan lincah maka akan mati terlindas oleh pelaku usaha lain.

Dalam buku Change Kasali mengatakan ada beberapa karakteristik change yaitu 1) change begitu misterius dan tidak mudah di pegang, 2)  perubaban memerlukan change maker, 3) tidak semua orang bisa diajak melihat perubahan, 4) perubahan terjadi setiap saat maka perubahana harus diciptakan setiap saat bahkan berkali-kali, 5) ada sisi keras dan lembut yang menyangkut manusia dalam perubahan.

Selanjut ke-6, perubahan membutuhkan waktu, biaya dan kekuatan, 7) dibutuhkan upaya-upaya khusus untuk menyentuk nilai-nilai dasar budaya organisasi (corparate culture), 8) perubahan banyak diwarnai mitos-mitos, 9) perubaban menimbulkan ekspektasi yang membawa harapan baru dan 10) perubahan selalu menakutkan dan membawa kepanikan tetapi harus dimanage untuk dengan strategi yang tepat untuk kesuksesan.

Di era distrupsi ekonomi dan revolusi industri perubahan pilihan yang harus dilakukan karena zaman membutuhkan perubahan dalam strategi, pola, model, dan sendi-sendi kehidupan berbisnis.

Koperasi Hadapi Peruahan

Koperasi sebagai pelaku bisnis juga tidak bisa lepas dari tuntutan berubahan. Fakta menunjukan koperasi jauh tertinggal dibanding pelaku bisnis lain. Tidak mudah melakukan perubahan di koperasi tetapi koperasi wajib berubah untuk mampu memberikan pelayanan pada anggota.

Sisi apa dalam koperasi yang harus dilakukan perubahan? Ada 3 dimensi yang harus dilakukan perubahan dalam koperasi. 1) perubahan straregi, proses dan model berbisnis dengan menggunakan teknologi maju serta ilmu pengetahuan terkini sehingga produk/jasa layanan koperasi berbasis pasar dan teknologi.

2) budaya organisasi dengan menerapkan manajemen modern yang menggunakan kaidah-kaidah ekonomi perusahaan berdasar skala ekonimi, efektif, efisien berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan. dan 3) koperasi wajib berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai koperasi yang menempatkan anggota sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa usahanya.

Contoh perubahan di koperasi,  koperasi simpan pinjam (KSP) melakukan transformasi pada, 1) inovasi produk simpan pinjam dengan berbagai jasa simpanan dan pinjamanya 2) inovasi pelayanan berbasis teknologi dan online sehingga mudah, murah serta menciptakan pendapatan baru di koperasi (fee based income).

Sehingga koperasi tidak hanya mengandalkan jasa/bunga pinjaman. Lalu 3) diversifikasi bisnis dengan penyertaan, akuisisi perusahaan, menciptakan wadah bisnis baru untuk melayani anggota, dan 4) konsisten pada jatidiri hanya melayani anggota dan harus memperbanyak anggota serta mendidik anggota.

Sekali lagi saatnya seluruh pelaku bisnis koperasi berubah, sebab perubahan menunjukan kehidupan dan kemajuan koperasi. Perubahan koperasi juga harus diciptakan sehingga membutuhkan pendampingan karena membutuhkan ilmu dan teknologi. ***

Penulis: Ketua Harian Dekopin dan Dosen Binus University

LEAVE A REPLY