ilustrasi OJK Syariah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menunggu harmonisasi dari Kementerian Hukum dan HAM untuk merampungkan aturan equity crowdfunding. Mekanisme equity crowdfunding ini merupakan kegiatan urun dana yang menyasar usaha kecil dan menengah.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi memaparkan bahwa equity crowdfunding tersebut merupakan produk baru yang nantinya akan menyediakan platform provider sebagai penyelenggara perdagangannya.

Provider nya siapa yang daftar dulu. Ini semua baru, yang menjadi bursanya mendaftar dan emitennya juga mendaftar. IPO itu kan urun dana juga, tapi lebih gede. [Equity crowdfunding] ini menyasar ke yang lebih kecil, Rp10 miliar ke bawah,” ujar Fakhri di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/1).

Equity crowdfunding diharapkan Fakhri, dapat menangkap peluang investor untuk kegiatan-kegitanan social crowdfunding di mana mekanismenya tidak akan seketat IPO (penawaran umum saham perdana). “Proses harmonisasi di Kemenkumham dapat selesai bulan ini,ya? Sehingga platform urun dana tersebut bisa langsung dijalankan,” harapnya.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menambahkan, mekanisme equity crowd funding juga dapat digunakan untuk usaha rintisan (startup) untuk menggalang dana lewat pasar modal. Mengenai sekuritisasi yang dapat dilakukan sebagai sumber rising fund dari publik, Wimboh mendorong agar UMKM dapat menjadi issue dalam praktik sekuritisasi tersebut.

“Banyak yang harus kita eksplor, bukan hanya issue yang korporatnya besar, tapi bisa juga yang UMKM akan kita dorong. Caranya menggaet dan memberikan edukasi terkait persyaratan-persyaratan untuk emisi di pasar modal bagi UMKM,” tutur Wimboh saat Pembukaan Perdagangan BEI 2019 itu.

Untuk investornya, Wimboh berharap agar pemain tidak hanya datang dari yang berskala besar, namun juga dari korporasi berskala menengah. “Sehingga nanti banyak sekali yang investor base dari ritel. Dan juga investornya melakukan transaksi bukan hanya di Jakarta, bisa dari daerah-daerah. Dengan begitu, masyarakat di daerah juga bisa mengakses ke pasar modal dan memperdalam pasar,” ujarnya.

Di bagian lainWimboh optimistis tekanan perekonomian global akan menurun di 2019. Salah satu pemicunya kenaikan suku bunga The Fed yang dalam rencana hanya akan dilakukan sebanyak dua kali saja di tahun ini.

“Tekanan di 2019 akan lebih mild dibanding 2018. Di 2018 berat sekali, volatilitas nilai tukar berat. Sehingga harus di respon dengan kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga di AS sudah lebih mild, meski rencana dua kali,” kata.

Kenaikan suku bunga The Fed yang hanya akan terjadi dua kali tahun ini pun akan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. “Tekanan suku bunga sudah tidak terlalu berat, sehingga situasi kembali jadi normal kita harapkan di 2019. Normal sekali gak karena thte Fed bisa dua kali lagi,” ujarnya.

Selain itu, kondisi fundamental perekonomian domestik yang bagus akan menarik investor dari luar untuk masuk. Arus modal keluar alias capital outflow yang terjadi, kata dia hanya bersifat sementara.

“Foreign fund ini dia akan mencari yield yang lebih tinggi, dengan kondisi domestik stabil, dia akan balik. Kemarin itu temporary, beberapa bulan terakhir portfolio sudah mulai baik. Ini bukti fundamental kita bagus. Kemarin negative karena gejolak global. Ini kami harapkan investor portfolio lebih confident lagi masuk Indonesia,” tutupnya. (net/lin)

LEAVE A REPLY