Anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Mandiri Syariah Oni Sahroni saat presentasi pada acara Media Training Mandiri Syariah. Foto: Humas Mandiri Syariah

Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim ternyata masih belum maksimal bahkan meragukan keberadaan bank syariah. Sehingga pertumbuhan bank syariah melambat. Namun gerakan bank syariah yang dilakukan perbankan syariah tampak tak kenal lelah.

Anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Mandiri Syariah Oni Sahroni mengatakan, sebenarnya bank syariah itu sudah on the track di Indonesia. Ia hadir untuk melengkapi kekurangan agar mendekati kesempurnaan dengan kunci utamanya yaitu halal dan berkah.

“Alur dan proses bank syariah itu diawali dengan sumber yang halal selanjutnya dikelola secara halal dan dengan bagi hasil yang halal karena ditunaikannya sedekah,” kata Oni ketika tampil sebagai pembicara dalam Media Training Mandiri Syariah di Aia Angek Cottage, Padang Panjang, Sumatera Barat, Jumat (25/10/2019).

Pria lulusan Universitas Al- Azhar, Kairo ini berbagi ilmu dan pengetahun terkait syariah dan Fikih Muamalah dengan puluhan awak media. “Apakah Bank Syariah tidak Syariah? Bank Syariah pun tidak sempurna keberadaannya karena layaknya keluarga dan pekerjaan personal,” ujar Oni memulai presentasinya.

Bank Syariah hadir untuk menutupi kekurangan harus syariah, lanjut Oni, karena syariah itu tujuannya adalah berkah. “Untuk mencapai berkah itu kita perlu bersujud ditempat usaha, mandiri secara finansial, bekerja di usaha halal, investasi dan sektor rill, menabung dan asuransi, adil tanpa menzalimi, menyediakan solusi dan model serta tumaknina dan keberkahan,” rincinya.

Diakuinya bank syariah terlihat tidak inovatif dalam produk bursa atau saham, seperti di media sosial (medsos). “Itu karena memang investasi dan sektor riil bidang ekonomi atau bisnis syariah. Di mana kalau jenis usaha yang mengandung riba, gharar, alkohol, judi adalah haram. Objek-objek pembiayaan ada batasan juga juga, yaitu diawasi jangan yang masuk haram,” paparnya.

Karena setelah masuk pendapatan atau hasil usaha, lanjut dia, harus mengikuti aturan bagi hasil. Pada hasil usaha ini harus menyisakan untuk sedekah 2,5% ditunaikan. Dalam mengeluarkan produk-produk syariah yang benar dan dijaga dalam praktiknya, kata dia, ini yang membedakan dengan konvensional.

“Makanya, kami mendorong adanya kurikulum bank muamalah, seperti bagi hasil dan asuransi,” tuntas Oni yang sekaligus diperkenalkan pada wartawan sebagai Anggota DPS Mandiri Syariah yang baru.

Seperti diketahui, Oni dipercaya Bank Mandiri Syariah sebagai anggota DPS membantu Mohammad Hidayat yang kini dipercaya sebagai Ketua DPS Mandiri Syariah menggantikan jabatan yang ditinggal Ma’ruf Amin yang mundur karena menjadi Wakil presiden mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu alasan dipilihnya Oni karena merupakan orang Indonesia pertama yang mampu menyelesaikan program doktoral bidang Muqarin di Universitas al-Azhar Kairo. Pria kelahiran Serang tahun 1975, aktif diberbagi organisasi seperti anggota dewan syariah nasional MUI, pengasuh Talaqqi Fikih Mu’amalah Sebi, menulis referensi untuk otoritas, Industri dan masyarakat.

Tak hanya itu ia juga aktif mengelola konsultasi syariah pada Muamalah Daily dan juga pengasuh rubrik konsultasi syariah. Riwayat pendidikannya Oni merupakan lulusan pesantren Tahfid Raudhatul Huffadz di Pekalongan Jawa Barat.

Ia juga lulusan sarjana (S1) jurusan Lisence Fakultas Syariah Universitas Al Azhar Kairo, magister (S2) Fikih Muqaran Fakultas Syariah Universitas Al- Azhar Kairo  dan Doktoral (S3) Fikih Muqaran Fakultas Syariah Universitas Kairo.

Sepanjang karirnya pria yang juga akrab disapa ustad Oni telah melahirkan buku sebanyak enam judul yaitu Riba Gharar dan Kaidah-kaidah ekonomi syariah analisis fikih dan ekonomi.

Muqashid Bisnis dan Keuangan islam. Fikih muamalah dinamika teori akad dan penerapannya dalam ekonomi syariah. Usul fikih muamalah, fikih zakat kontemporer dan fikih muamalah kontemporer. (smr)

LEAVE A REPLY