Menteri PPPA Yohanna

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise meminta agar anak-anak yang ikut terdampak banjir bandang di Sentani Papua, selama masa pengungsian harus diperhatikan sekolahnya.

“Tadi, saya sudah minta ke Kadis Pendidikan Kabupaten Jayapura agar anak-anak ini diperhatikan sekolahnya,” katanya di sela-sela mengunjungi anak-anak dan keluarga yang mengungsi di Posko GOR Toware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (31/3).

Menurut dia, anak-anak yang terdampak banjir bandang, baik yang mengungsi di GOR Toware dan sejumlah tempat lainnya harus difasilitasi untuk bersekolah. “Mereka inikan bisa dititipkan di sekolah terdekat, apalagi ada yang akan ujian,” kata Mama Yo, sapaan akrabnya.

Dengan begitu, kata dia, anak-anak usia sekolah bisa terpenuhi kebutuhannya akan sekolah. “Mereka ini prioritas, harus diperhatikan selain hal lainnya selama masa ini,” katanya.

Mengenai perlindungan Cagar Alam Cycloop, Mama mengatakan pihaknya siap melibatkan 1.000 perempuan dan anak untuk menanam pohon di kaki Gunung Cyclop di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

“Ada lahan-lahan kosong di bawah kaki Gunung Cyclop yang perlu kita tanam pohon, saya akan gerakan 1.000 orang sebagian besar anak-anak,” kata Yohana Yembise.

Menurut Menteri, dirinya ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa masa depan untuk melindungi alam ada di tangan mereka. “Jadi mereka juga bisa tahu bagimana bisa melindungi alam mereka, itu rencana saya ke depan,” kata Menter berdarah Papua.

Mama pun menguatkan para perempuan pengungsi. “Perempuan di sini kuat-kuat meskipun tinggal di pengungsian. Anak-anak juga tetap bisa bergembira,” kata Yo.

Yohana meminta maaf tidak bisa langsung mengunjungi para korban ketika bencana banjir bandang terjadi karena sedang berada di New York, Amerika Serikat untuk menghadiri sidang Komisi Status Perempuan (CSW) ke-63.

Yohana bersyukur akhirnya bisa mengunjungi dan bertemu langsung dengan perempuan dan anak-anak yang menjadi korban. Menurut dia, dia datang ke lokasi pengungsian untuk memastikan hak-hak dasar perempuan dan anak pengungsi terpenuhi selama berada di pengungsian.

“Tanpa perempuan, keluarga Papua pasti pusing. Bukan saya mengesampingkan laki-laki, melainkan dari perempuan akan lahir generasi-generasi Papua. Karena itu, saya meminta perempuan dan anak-anak Papua, termasuk yang tinggal di pengungsian, untuk melapor bila mengalami kekerasan dan diskriminasi.

Kalau ada yang melakukan kekerasan, mengganggu atau memukul, pinta dia, laporkan kepadanya. “Akan saya laporkan ke polisi agar ditangani. Saya berpesan kepada para laki-laki untuk menjaga perempuan dan anak-anak karena masa depan Papua berada di tangan mereka.Perhatikan dan bahagiakan mereka. Beri anak-anak makanan yang sehat dan bergizi,” ujarnya.

Banjir bandang Sentani terjadi Sabtu (16/3) pukul 18.00 hingga 23.30 WIT di Distrik Sentani, Distrik Waibu, Distrik Sentani Barat, Distrik Ravenirara, dan Distrik Depapre. Banjir bandang di wilayah Kabupoten Jayapura dan sekitarnya terjadi akibat hujan deras di wilayah Pegunungan Cycloops yang sudah gundul.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Jumat (29/3) terdapat 4.763 jiwa atau 963 kepala keluarga yang mengungsi akibat banjir bandang dan luapan Danau Sentani.

Banjir menyebabkan 112 orang meninggal dunia, 2.287 rumah rusak, 59 sekolah rusak, lima jembatan rusak, dua gereja rusak dan tiga kantor pemerintahan rusak.  (int/net/lin)

LEAVE A REPLY