ilustrasi mafia bola. foto: internet

Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali mengatakan, malam usai pertandingan, Satgas Anti Mafia Bola Wilayah Polda Kalteng dan Resmob Ditreskrimun Polda Kalteng melakukan aksi penangkapan dan penggeledahan terhadap sembilan orang yang diduga melakukan pengaturan skor pertandingan di Hotel Fovere Palangkaraya, pukul 03.00 WIB.

Dari 9 orang yang ditangkap dan digiring ke kantor Ditreskrimum Polda Kalteng, rinci Akmal, ada enam orang adalah perangkat pertandingan dan 3 orang manajemen klub. Kesembilan orang tersebut berinisial IPJ, MCS, KRD, DST, JRE, FAN, KFH, FAG, dan HMN.

“SOS menerima kabar sembilan orang diamankan. Ini langkah Satgas Anti Mafia Bola Wilayah Polda Kalteng yang patut diapresiasi karena melakukan tindakan cepat penggeledahan dan pemeriksaan,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer dalam rilis yang diterima whatsapp (WA) Group Pleno PWI DKI 2019-2024, Senin (28/10/2019).

Semoga, harap Akmal, diikuti daerah lain sebagai tindakan preventif pengaturan skor yang menjadi salah satu oenyakit di sepakbola Indonesia. “Tapi, azas praduga tak bersalah harus tetap dikedepankan. Ini penting untuk penegakkan hukum,” imbuhnya.

Pengaturan skor atau match fixing di sepakbola seperti candu. “Akan selalu potensial terjadi. Karena itu sangat penting buat PSSI dan PT Liga Indonesia Baru selaku regulator dan operator melakukan langkah-langkah antisipasi,” terangnya.

Jangan sampai, kata dia, kompetisi yang sudah memasuki fase-fase akhir mengalami cacat moral. “Sayangnya, sejak Kapolri Tito Karnavian berinisiatif membentuk Satgas Anti Mafia Bola, tak ada langkah-langkah progresif yang dilakukan PSSI untuk pencegahan,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, mereka punya Departemen Sport Intellegent dan juga telah membentuk Komite Adhoc Integritas dalam Kongres Tahunan di Bali pada Februari 2019. Kemana mereka? Padahal, penting untuk melakukan langkah-langkah konkret demi menjaga integritas kompetisi dalam lingkup Football Family,” ucap Akmal.

LEAVE A REPLY