Generasi milenial tengah melakukan video conference dengan pegawai Mandiri Syariah untuk membuka rekening online melalui ponsel di salah satu kafe di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2020). Foto: humas Mandiri Syariah

Transformasi digital mendongkrak kinerja Bank Syariah Mandiri (BSM) atau Mandiri Syariah tahun 2019. Sepanjang 2019, perusahaan melakukan transformasi digital dalam bentuk peluncuran fitur pembukaan rekening online, digital branch, memperkaya fitur digital channel seperti tarik tunai tanpa kartu ATM,  fitur-fitur pembelian, pembayaran termasuk QRIS, dll.

semarak.co -Mengakomodasi kebutuhan masyarakat untuk bertransaksi dan beribadah Mandiri Syariah berupaya menjadikan Mandiri Syariah Mobile sebagai Superaps, di mana dalam satu aplikasi tersebut, nasabah bisa melakukan transaksi keuangan.

Selain itu berbagi melalui fitur pembayaran zakat, sedekah, wakaf, kurban, sekaligus beribadah melalui kemudahan mendapatkan jadwal sholat, arah kiblat, lokasi masjid, juzamma, kutipan hadis, dll.

Untuk kemudahan transaksi, terdapat juga Mandiri Syariah Mobile Keyboard, blokir kartu Mandiri Syariah Debit, dan juga kemudahan payment untuk transaksie-commerce, pelunasan haji, top up e-wallet (emoney, gopay, ovo).

Direktur IT, Operation & Digital Banking Mandiri Syariah Achmad Syafii mengatakan, pengembangan fitur digital berdampak pada peningkatan pendapatan Fee Based Income (FBI) digital channel yang naik 24,86%  dari  Rp166,47miliar per Desember2018 menjadi Rp207,86miliarper Desember 2019.

FBI dari mobile banking, klaim Achmad, berkontribusi tertinggi dengan pertumbuhan sebesar 88,03% dari Rp27,46miliar per Desember 2018 menjadi Rp51,64 miliar per Desember 2019.

“Sampai Desember 2019, user Mandiri Syariah Mobile mencapai 1,05 juta dengan jumlah transaksi sebanyak 24 juta transaksi,” ujar Achmad dalam rilis Humas Mandiri Syariah, Selasa (17/2/2020).

Pertumbuhan transaksi tertinggi berasal dari transaksi Zakat, rinci Achmad, Infaq, Sedekah &Waqaf (Ziswaf) yang naik374% semula 440 ribu transaksi di2018 menjadi 2 juta transaksi di 2019.

Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari mengatakan, perusahaan syariah pelat merah ini membukukan laba bersih sebesar Rp1,28 triliun per Desember 2019. “Atau naik 110,68 persen dibanding periode sama tahun lalu,” ungkapnya.

Indicator bisnis Mandiri Syariah secara keseluruhan seperti aset, dana pihak ketiga, pembiayaan dengan kualitas baik, margin, serta fee based income naik signifikan. “Kenaikan laba ditopang pendapatan margin dan fee based income. Antara lain disumbang dari transformasi bisnis digital,” ujar Toni.

Pembiayaan Mandiri Syariah tumbuh 11,50 persen semula Rp67,75 triliun per Desember 2018menjadi Rp75,54 triliun per Desember 2019. Pembiayaan Segmen Konsumer meliputi pembiayaan Kendaraan Berkah, Griya Berkah, Pensiun Berkahdan Mitraguna Berkah.

Dari seluruh produk tersebut, Kendaraan Berkah mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 84,53 persen dari Rp1,54 triliun per Desember 2018 menjadi Rp2,85 triliun per Desember 2019.

“Pertumbuhan pembiayaan tersebut disertai perbaikan kualitas yang terjaga baik dengan indicator penurunan kredit bermasalah atau noun performance financing (NPF) Net sebesar56 basis point (bp) dari 1,56 persen per Desember 2018 menjadi 1,00 persen per Desember 2019,” rincinya.

Sementara, lanjut dia, NPF Gross turun 84bp dari 3,28 persen di Desember 2019 menjadi 2,44 persen per Desember 2019. Pertumbuhan pembiayaan memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan pendapatan margin bagi hasil bersih yang tumbuh 6,95% (yoy) semula Rp4,93triliun per Desember 2018 menjadi Rp5,27 triliun per Desember 2019.

“Sementara fee based income meningkat 17,69 persen dari Rp1,60 triliun per Desember 2018 menjadi Rp1,89 triliun per Desember 2019,” papar Toni.

Sementara itu, Direktur Finance, Strategy and Treasury Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho mengungkap sampai Desember 2019 dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun Mandiri Syariah tumbuh 14,10 persen dari Rp87,47 triliun per Desember 2018 menjadi Rp99,81 triliun pada Desember 2019.

Dari total danatersebut, porsi low cost fund mencapai 54,38 persen. “Pertumbuhan low cost fund tersebut ditopang oleh Tabungan yang naik 13,49% dari semula Rp35,07 triliun per posisi Desember 2018 menjadi Rp39,80 triliun per posisi Desember 2019,” rinci Cahyo.

Perolehan DPK menjadikan asset Mandiri Syariah per akhir Desember 2019 mencapai Rp112,29 triliun atau naik14,19 persen dari Desember 2018 yang sebesar Rp98,34triliun.

Atas pencapaian seluruh indicator bisnis di atas, Mandiri Syariah mencatatkan kenaikan signifikan pada rasio laba terhada pekuitas (return on equity/ROE) di level 15,65% per Desember 2019.  (lin)

LEAVE A REPLY