Kepala Bekraf Triawan Munaf (paling kanan) saat peresmian rumah Arie Smit dan pembukaan pameran lukisan. Foto: internet

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf meresmikan Rumah Arie Smit dan membuka pameran lukisan alumni SMA Santa Ursula Jakarta di Ubut Gianyar, Bali, Jumat malam (11/10/2019).

“Saya mengenal Bapak Neka dan juga mengenal pelukis Maestro Arie Smit yang lama tinggal di Bali, khususnya di Ubud. Saya sangat gembira dengan berdirinya House of Arie Smit,” kata Triawan Munaf dalam sambutannya.

Jika nanti selesai tugas sebagai Kepala Bekraf, Triawan Munaf mengaku, akan lebih sering berlibur ke Ubud bersama keluarga. “Saya sering kunjungan kerja ke Bali, tapi jarang ke Ubud,” tambah ayah dari aktris Sherina.

Selain meresmikan House of Arie Smit, kepala Bekraf juga membuka pameran lukisan para alumni SMA Santa Ursula di jalan Pos, Jakarta Pusat di tempat yang sama.

Pameran lukisan dari 34 alumni Santa Ursula dari berbagai angkatan dan mereka tinggal di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara berlangsung selama satu bulan, 11 Oktober hingga 11 November 2019.

Ketua Panitia Pameran Lukisan Putu Amy Kardi mengatakan, mereka adalah alumni yang suka melukis dan ini yang pertama kali dipamerkan bersamaan dengan peresmian Rumah Arie Smit.

“Mulai dari alumni yang berusia Sembilan tahun hingga berusia 80 tahun. Ada alumni dari yang sudah tinggal di Spanyol dan Australia mengirimkan lukisan ke Ubud,” kata Putu Amy.
Pameran lukisan dengan tema “Karya Kami” menampilkan sekitar 100 lukisan karya alumni Santa Ursula, dimana hasil pameran akan disumbangkan untuk almamater.

Sementara itu Direktur Rumah Arie Smit, Pande Made Kardi Suteja menjelaskan, Arie Smit merupakan salah satu maestro pelukis dunia yang menetap lama di Ubud, Bali. “Arie Smit merupakan mantan tentara KNIL Belanda yang kemudian menjadi warga negara Indonesia menjadi pelukis,” kenang Pande.

Lukisan Arie Smit, kutip Pande lagi, banyak dibeli dan dikoleksi para konglomerat Indonesia dan internasional. Salah satu putra Neka, kata dia, tokoh dan seniman besar di Ubud, Gianyar.

“Arie Smit pernah tinggal di beberapa kota di Jawa. Pernah tinggal di berbagai daerah di Bali seperti di Buleleng, Karangasem dan paling lama tinggal di Ubud, Gianyar selama 24 tahun hingga meninggal di rumah ini,” tambah dokter spesialis Urologi, lulusan Universitas Indonesia itu.

Arie Smit memberikan banyak kontribusi pada seni lukis di Bali. Ia mengajak anak-anak di desa Penestanan, Ubud, belajar melukis kuil, pura, dan upacara keagamaan Hindu Bali dengan warna-warni kemudian mendirikan organisasi “Young Artist” sehingga melahirkan suatu mazhab seni lukis yang baru.

“Hubungan Arie Smit dengan keluarga kami sangat dekat. Bahkan Arie Smit masuk ke dalam kartu keluarga Neka. Jadi sudah menjadi saudara. Oleh karena itu, peresmian Rumah Aris Smit ini didirikan untuk terus mengenang jasanya dan menyalakan semangat serta kreativitas Arie Smit kepada generasi berikutnya,” jelas Kardi Suteja. (net/lin)

 

sumber: indopos.co.id

LEAVE A REPLY