Menteri BUMN Rini Soemarno duduk di bawah di tengah para wartawan pada acara media gathering Kementerian BUMN di bogor, Jumat-Sabtu 28-29 April 2017

Kementerian BUMN mencatatkan kinerja laba pada triwulan (Tw) I-2017 hingga Rp 43 triliun. Pemegang saham mayoritas perusahaan pelat merah ini menargetkan laba dari 118 BUMN, selama 2017 mencapai Rp 197 triliun. Atau naik dari tahun lalu, Rp 164 triliun. Adapun pendapatan BUMN, menurut data Kementerian BUMN sebesar Rp 431 triliun, di Tw I-2017 ini. Targetnya, BUMN membukukan pendapatan hingga Rp 2.116 triliun di 2017. Sedangkan pendapatan seluruh BUMN pada 2016 sebesar Rp 1.802 triliun.

Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro menjelaskan, biaya bisnis yang dikeluarkan belanja modal atau (Capex) pada Tw-I terbilang agresif, senilai Rp54 triliun. Atau baru 12,6% dan ini minus 88,4% dari target, yaitu Rp468 triliun. Karena itu, BUMN dituntut untuk mampu bersaing dengan swasta baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya terhadap perekonomian nasional, seperti setoran dividen dan pajak.

“Sebagai agen pembangunan (agent of development), BUMN akan terus ambil bagian dalam berbagai proyek pembangunan guna mendukung realisasi program-program pemerintah yang meliputi proyek infrastruktur, maritim, energi, serta proyek lainnya, katanya menambahkan,” ujar Imam pada paparan kinerja Kementerian BUMN di Bogor, Jumat (28/4) sore.

Sementara, aset BUMN per Tw-I, rinci Imam, mencapai Rp 6.560 triliun dari target Rp 7.035 triliun tahun ini. “Terkait pajak yang disetor per triwulan I mencapai Rp 36 triliun. Atau masih kurang 78,1% lagi untuk mencapai target sepanjang tahun sebesar Rp 165 triliun. Di tahun ini, kami menarget dapat mempekerjakan pekerja tetap dan tidak tetap sebanyak 956.918 orang. “Atau meningkat 3 persen dibanding 2016,” paparnya.

Adapun pertumbuhan aset dari total 118 BUMN di kuartal I-2017, Imam mencatat, telah mencapai Rp 6.560 triliun. Jumlah tersebut naik Rp 235 triliun dari jumlah asset, sepanjang 2016 yang mencapai Rp 6.325 triliun. “Angka ini naik sekitar Rp 235 triliun, dibandingkan tahun 2016,” kata Sekretaris di Wikasatrian, Pasir Angin, Bogor, Jumat malam (28/4).

Kemudian untuk bank syariah juga diminta untuk bekerjasama atau bermitra dengan bank syariah luar negeri, yang memungkinkan dapat mentransfer teknologi dan ilmu pengetahuan bank syariah. (lin)

LEAVE A REPLY