Ada ustadz kondang Aa Gym sebagai anak mantan tentara hadir dan memberi ceramah pada acara Halal Bihalal purnawirawan TNI/Polri dan ada Mayjen Pur Syafri Syamsuddin (paling kanan) dan mantan Panglima Jenderal Purn Gatot Nurmantyo. foto: internet tarbawia

Tak banyak berita pertemuan ribuan purnawirawan TNI/Polri dan keluarganya bahkan ada 500 purnawirawan jenderal di antaranya. Ini karena pertemuannya sempat berpindah-pindah dan akhirnya berlangsung di Masjid At Tin Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Selasa malam (25/6/2019).

Seperti diketahui, beredar pesan berantai di media sosial Whatsapp (wa) maupun medsos lainnya, seperti twitter, facebook, dan instagram yang memberi judul,  Dipersulit, Ribuan Purnawirawan TNI Tetap Gelar Pertemuan di Masjid At Tin.

Dalam pesan berantai itu ditulis, sempat dihambat dan dipersulit akhirnya ribuan purnawirawan TNI dan Polri tetap menggelar Halal Bihalal di  masjid At Tin, kawasan TMII Jakarta, Selasa 25 Juni 2019. Tempat dan pelaksanaan acara berpindah dan berganti-ganti berkali-kali.

Semula akan dilaksanakan dilaksanakan Sabtu (16/6/2019 di Sentul Convention Center  (SCC), Bogor. Pengelola gedung sudah menyetujui dan memberi izin acara. Undangan juga telah disebar. Namun hanya sehari sebelum pelaksanaan  panitia mendapat pemberitahuan gedung tidak bisa digunakan.

Panitia mencoba menemui manajer SCC, namun ternyata sang manajer sudah mengundurkan diri. Panitia akhirnya mencari alternatif gedung. Mereka mencoba menghubungi pengelola gedung pertemuan di SCBD, namun juga dipersulit.

Akhirnya panitia mencoba menghubungi pengelola sebuah gedung di kawasan  TMII. Mereka diberitahu bahwa tanggal 24 Juni jadwalnya kosong. Namun lagi-lagi mereka harus kecewa. Ketika akan dibooking, panitia diberitahu pada tanggal tersebut sudah ada yang menyewa.

“Kami merasa dipersulit. Tapi kami paham situasinya,” ujar seorang jenderal yang menjadi panitia seperti diteruskan menjadi pesan berantai melalui medsos WA, salah satunya WA kiriman Ernest, Rabu (26/6/2019).

Karena kesulitan mendapat gedung, mereka mencoba menghubungi pengelola masjid At Tin, syukurlah langsung diizinkan. Tempat ini sesungguhnya tidak ideal. Sebab tidak semua yang hadir beragama Islam. “Tapi apa boleh buat. The show must go on. Ketika kami memasang tenda, tampak helikopter mondar-mandir di udara, ” tambahnya.

Panitia kali ini mengundang 3.000 orang purnawirawan TNI-Polri (ABRI) mulai dari jenderal sampai tamtama. Tercatat yang hadir mencapai 7.000 orang dari berbagai provinsi. Jumlah jenderal yang hadir mencapai 500 orang.

Di antaranya 4  orang purnawirawan jenderal bintang 4, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, mantan KSAD Jend (Purn) Agustadi Sasongko, mantan KSAU Marsekal (Purn) Imam Sufaat dan Laksmana (Purn) Tedjo Edi Purjiatno.

Sementara bintang tiga antara lain mantan Mensesneg Letjen (Purn) Sudi Silalahi, mantan Wamenhan Letjen ( Purn), mantan Sesjen Wantanas Letjen TNI ( Purn) Romulo Simbolon, mantan Wamenhan Letjen TNI ( Purn)  Sjafrie Sjamsoeddin, mantan Danjen Kopassus Letjen TNI (Purn) Agus Sutomo dll. Ulama kondang KH Abdullah  Gymnastiar yang juga putra seorang perwira purnawirawan TNI hadir memberi tausyiah.

Kabar itu bukan hoaks. Karena Rabu pagi (26/6/2019), muncul cuitan Titiek Soeharto, anak mantan Presiden kedua, Jenderal TNI Soeharto. Dalam akun pribadinya, @Titiek Soeharto menulis kalimat begini.

“Menghadiri Halal Bihalal purnawirawan TNI-Polri di Masjid At Tin. Acara dihadiri 7000 orang purnawirawan n keluarga besar TNI-Polri. ADa juga 500 jenderal purnawirawan. A’a Gim ternyata juga anak tentara. Senag bertemu n bernostalgia bersama ibu-ibu Persit Jadul.

Cuitan Mbak Titiek Soeharto, pada 25 Juni 2019, pukul 07.53 WIB itu pun disukai 3.914 dan 616 retweet hingga pukul 17.36 WIB.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengingatkan agar para purnawirawan bangkit melakukan perubahan demi menjaga NKRI tidak punah. Gatot menyampaikan hal tersebut setelah dirinya melakukan kunjungan silaturahmi kepada para senior TNI terkait kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini.

Gatot: Kita Harus Bangkit dan Bergerak

“Saya hanya menyampaikan saja. Intinya adalah dalam situasi sekarang ini kita bangkit dan bergerak atau negara kita akan punah,” kata Gatot dalam sambutannya pada acara Halal Bihalal yang digelar di Masjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur, Selasa (25/6/2019).

Sebagai seorang mantan prajurit, dia mengingatkan, sumpah yang dilakukan saat masih aktif sebagai tentara dimana setia kepada NKRI dan Pancasila tidak akan pernah hilang sebelum bunyi salvo atau tembakan penghormatan terakhir bagi prajurit dan mantan prajurit saat di makamkan tidak terdengar.

“Selama kita masih bisa mendengarnya, kita masih terikat sumpah,” tekan Gatot.

Pada kesempatan itu, Gatot juga memberikan pandanganya soal sila ke-4 dalam Pancasila yang dinilai telah kehilangan makna saat ini. Tidak hanya itu, dia menyinggung bahayanya global civilizations yang mengancam kedaulatan bangsa.

“Ini kalau kita tidak waspada, seperti suku Aborigin, hilang dan suku lainya. Siapa lagi yang perduli kalau bukan kita,” ujarnya.

Mantan KSAD itu juga menyoroti kerjasama ekonomi yang menurutnya adalah satu keniscayaan, namun dalam kerjasama tersebut, diingatkan agar tidak menghilangkan ruang hidup masyarakat.

“Kewaspadaan adalah harga dari sebuah kemerdekaan. Purnawirawan harus bangkit atau bangsa ini akan punah,” demikian Gatot menutup sambutan.

Terkait hal ini, beredar pesan berantai juga sebelumnya yang dikutip dari facebook anonim. Isinya sebagai berikut, silakan anda terus lemahkan fungsi dan peran TNI dalam penanganan hakekat ancaman, namun jangan pernah sekali-kali berani menyebut bahwa TNI telah terpapar paham radikal.

Ingat… Rakyat akan menilai siapa kami dan siapa anda.

Cukup anda bayangkan, jika 3% kekuatan TNI dikatakan telah terpapar paham radikal, itu berarti ada sekitar 11 ribu sd 12 ribu lebih Tentara Nasional Indonesia adalah bagian dari kelompok radikal. Itu jumlah yang sangat luar biasa dan cukup untuk menduduki suatu kota besar.

Angka 3% itu setara dengan satu Divisi. Mungkin anda tidak pernah membayangkan bila kekuatan sebesar itu harus angkat senjata, memberontak dan menggulingkan Negara ini. Tentu bukanlah hal yang sulit bagi pasukan dengan kekuatan sebesar itu melakukannya.

Pertanyaannya mengapa hingga detik ini hal tersebut tidak pernah terjadi?

Perlu anda ketahui, prajurit TNI direkrut dari orang-orang pilihan yang tentunya sudah selesai dengan urusan ideologi. Tidak hanya itu, sebagai prajurit TNI yang memegang teguh Sapta Marga tentunya membela kebenaran di republik ini adalah kewajiban bagi kami.

Jadi sangat tidak mungkin prajurit TNI terpapar suatu paham yang bertentangan dengan Ideologi negara yang sudah menjadi kesepakatan bersama, apalagi hingga mencapai angka 11 ribu sd 12 ribu. Sangat mustahil!

Apakah karena kami tidak sepaham dengan anda lalu anda sebut kami radikal?

Apa dasar dan parameter anda mengatakan 3% dari kami terpapar paham radikal?

Justru kami khawatir, jangan-jangan anda dan mereka yang menyebut kami radikal adalah pihak yang sesungguhnya memiliki paham yang sangat bertentangan dengan Ideologi yang kami anut yaitu Pancasila.

Siapapun bisa mengaku dirinya paling Indonesia dan paling Pancasila termasuk anda, tapi apakah sudah anda implementasikan?

Tahun 1965, DN. Aidit sang tokoh besar Komunis dimasanya pernah menulis buku jika dirinya adalah Pancasilais, tapi faktanya dia melakukan kudeta dan mendalangi penculikan serta pembunuhan terhadap 6 Jenderal TNI AD plus 1 Pama hanya karena tidak sejalan dengan ide-ide komunis (PKI) untuk mengganti Ideologi Pancasila dan menolak adanya Angkatan ke V.

Mari kita gunakan akal sehat, bahwa wujud netralitas TNI tidak pernah mengenal dan tidak memiliki pemikiran radikal.

Kami sarankan anda untuk menjauh dari api sebelum terbakar.

 

sumber:

https://www.facebook.com/175884499261514/posts/1120845474765407/ https://www.gelora.co/2019/06/jenderal-gatot-nurmantyo-purnawirawan.html

WAG Kahmi Cilosari 17, kiriman Ernest (diteruskan) Syihabuddin (diteruskan) dan WA Garuda Perkasa Nasional

LEAVE A REPLY