Partai berkuasa Taiwan melakukan selebrasi dalam pertemuan khusus terkait Tiongkok. Foto: internet

Partai berkuasa atau Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen mengecam China dengan menyebut sebagai musuh demokrasi. Kecaman ini setelah muncul klaim baru soal intervensi Tiongkok dalam dunia politik di pulau tersebut menjelang pemilu presiden dan badan legislatif 11 Januari 2020.

Tuduhan campur tangan itu, yang dilaporkan oleh media Australia bersumber dari seorang warga Tiongkok pencari suaka di Australia yang mengatakan dirinya adalah mata-mata China.

China, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayah keramatnya yang akan diseret ke bawah kendali Beijing, jika perlu dengan kekuatan, mencap pria tersebut penipu.

Ketua Partai Progresif Demokratis (DPP) Cho Jung-tai, yang mendukung kemerdekaan resmi Taiwan, menyebutkan perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut, mengingat banyak berita hoaks yang berasal dari Tiongkok.

“China musuh demokrasi. Openen, pesaing paling ambisius Taiwan saat ini juga China,” kata Cho saat konferensi pers di Taipei.

Di antara sejumlah tuduhan yang dilontarkan, ia mengaku telah membantu membimbing perhatian media secara positif pada beberapa politisi Taiwan tertentu, termasuk lawan utama Pemimpin Tsai, Han Kuo-yu dari Partai Kuomintang, yang akrab dengan China.

Cho mengatakan sementara Kuomintang merupakan oponen langsung dalam pemilihan, tantangan terbesar berasal dari China. Ia menggambarkan China sebagai “kekuatan penghancur paling dahsyat.”

Sementara itu di Hong Kong, kandidat-kandidat pro demokrasi tampaknya mendapat perolehan besar dalam pemilihan dewan distrik Hong Kong. Senin pagi (25/11/2019), hasil awal menunjukkan bahwa beberapa tokoh pro pemerintah terkemuka kehilangan kursi mereka.

Lebih dari 2,9 juta orang memberikan suara mereka dalam pemilihan Minggu (24/11/2019). Dengan lebih dari 95 persen pengumuman hasil daerah pemilihanm para kandidat pro demokrasi tampaknya mendapatkan kemenangan besar.

Kenneth Chan, seorang ahli politik dan pemerintahan di Hong Kong Baptist University mengatakan bahwa lebih dari 70 persen jumlah pemilih, yang tertinggi dalam sejarah kota itu, melampaui banyak prediksi.

Hal itu menunjukkan bahwa warga Hong Kong berkomitmen terhadap demokrasi. Mereka juga mengandalkan pemilihan tersebut untuk memberikan jalan keluar dari kebuntuan di Hong Kong.

Lembaga penyiaran publik RTHK menggambarkan hasil pemilihan itu sebagai kekalahan dan kemenangan mengejutakn bagi kamp pro demokrasi. Mayoritas dari 18 dewan distrik diharapkan untuk beralih ke kontrol pro demokrasi.

Sebuah pesan jelas bagi pemimpin Hong Kong Carrie Lam. RTHK juga melaporkan bahwa kandidat oposisi mengambil hampir 90 persen kursi untuk diperebutkan. Lam mengatakan pemerintahnya menghormati hasil pemilihan.

“Ada berbagai analisis dan interpretasi dalam masyarakat sehubungan dengan hasil pemilihan. Dan sebagian dari pandangan itu adalah bahwa hasil pemilihan itu mencerminkan ketidakpuasan masyarakat dengan situasi saat ini, dan masalah yang mendalam di masyarakat,” jelas Lam yang dikutip CNN.

“Pemerintah akan mendengarkan pendapat anggota masyarakat dengan rendah hati dan dengan serius merefleksikannya,” tambahnya. (net/lin)

 

sumber: indopos.co.id

LEAVE A REPLY