Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat itu mengangkat tema Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan dan Keamanan, serta Hubungan Internasional. Foto: internet

Pasangan calon presiden (capres) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sudah mengajukan gugatan hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) melalui tim hukum mereka yang dipimpin eks Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Jumat (24/5).

Seperti diketahui, dari hasil Pleno KPU Jokowi-Maruf sukses meraih 55,50% atau 85.607.362.  Sedang Prabowo-Sandi mendapat 68.650.239 atau 44,50%. Namun, hasil Pilpres 2019 bisa berubah dari Jokowi ke Prabowo.

Pakar hukum dan tata negara, Feri Amsari, ada satu hal yang bisa dilakukan BPN Prabowo-Sandiaga jika ingin mengubah hasil Pilpres 2019. Mereka harus mampu membuktikan minimal 10 juta dari 85 juta suara Jokowi-Ma’ruf adalah milik mereka.

Angka tersebut, menurut Feri, adalah bilangan minimal yang dibutuhkan paslon nomor urut 02 itu untuk dapat mengubah hasil pemilu dengan memenangkan sengketa di MK. Sebab, hasil putusan MK bersifat final dan mengikat serta tidak ada upaya hukum atas putusan MK.

“Setidak-tidaknya pihak yang mengajukan permohonan mengubah hasil pemilu ini harus membuktikan 10 juta suara merupakan adalah suara haknya. Untuk dapat mengubah hasil Pilpres 2019, suara Prabowo-Sandi harus mengungguli Jokowi-Ma’ruf, minimal dengan selisih 10 juta,” ujar Feri dilansir media online nasional.

Jika hal tersebut terjadi, maka suara Jokowi berkurang menjadi 75 juta. Sedangkan Prabowo-Sandi bertambah 78 juta. Dengan begitu, Prabowo-Sandi baru bisa memenangkan sengketa di MK dan mengubah hasil pemilu.

“Paling aman membuktikan 10 juta suara. Kalau mengajukan 9 juta suara masih ada risiko ditolak sebagian, harus lebih banyak dari yang dibutuhkan,” ujar Feri, yang juga Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas

Dibutuhkan ratusan ribu formulir C1 dari ratusan ribu TPS yang harus dapat membuktikan penghitungan yang tidak tepat.

Mantan Ketua MK Mahfud MD berpendapat serupa. Menurut Mahfud, Prabowo-Sandi bisa berbalik unggul dari Jokowi-Maruf. Dalam acara Kabar Pagi di tvONE, Rabu (22/5/2019), Mahfud MD menyebut, soal gugatan angka dalam sengketa Pilpres 2019.

Menurut Mahfud MD, jika gugatan angka dilaporkan, bisa saja angka yang semula milik Jokowi bisa berubah menjadi Prabowo. “Nah kalau yang dipertentangkan itu soal angka hasil pemilu, angka perhitungan hasil pemilu itu nanti tinggal adu dokumen,” ujarnya.

Adu bukti-bukti, lanjut Mahfud, bahwa yang di KPU tidak benar. “Ini kami punya bukti lain itu untuk mengubah angka. Bisa saja nanti MK mengubah, yang semula misalnya Pak Jokowi mendapat 55 persen, Pak Prabowo mendapat 45 persen. Berbalik 55 untuk Pak Prabowo. Tapi bisa juga Pak Jokowi turun 52, Pak Prabowo naik sedikit bisa juga,” ulasnya.

Kemungkinan itu untuk menghitung angka. “Itu kalau soal angka,” kata Mahfud MD dalam acara tersebut.

Sementara itu, dalam tayangan di iNews Sore, jika Prabowo-Sandi dan BPN menggugat ke MK, ada kemungkinan perubahan suara. Sebab, MK juga bisa mengubah suara yang telah ditetapkan KPU sebelumnya.

Bahkan, ada kemungkinan pemenang lain di luar ketetapan KPU. Hal ini disampaikan Mahfud karena ia pernah memenangkan calon kepala daerah yang sebelumnya dianggap kalah dalam penghitungan suara.

“Di MK itu bisa lho, mengubah suara. Saya waktu jadi ketua MK sering sekali mengubah suara anggota DPR. Kemudian kepala daerah, gubernur, bupati, itu yang kalah jadi menang,” sebutnya.

“Bisa suaranya berubah susunannya, ranking satu dua tiga menjadi yang nomor 3, nomor satu dan sebagainya. Itu sering sekali dilakukan asal bisa membuktikan.

“Dan yang penting kalau di dalam hukum itu, kan, kebenaran materiilnya bisa ditunjukkan di persidangan. Nah, oleh sebab itu, yang kita harapkan fair-lah di dalam berdemokrasi,” ujar Mahfud MD.

Mantan Ketua MK lainnya, Hamdan Zoelva juga mengatakan hal serupa. Hal tersebut disampaikan Zoelva saat menjadi narasumber melalui sambungan telepon di program ‘Breaking News’ tvOne, Sabtu (25/5/2019).

Semula, Zoelva, yang dulu menjadi ketua MK saat Prabowo mengajukan gugatan sengketa Pilpres 2014, ditanyai oleh pembawa acara tvOne soal kemungkinan hasil Pilpres 2019 bisa berubah.

“Apakah ada celah dari pemohon (kubu Prabowo-Sandiaga) untuk mengubah hasil Pilpres 2019?” tanya pembawa acara tvOne.

Menanggapi hal tersebut, Hamdan Zoelva menilai perubahan hasil Pilpres 2019 mungkin saja terjadi.  Namun, lanjut Zoelva, hal ini akan sangat tergantung pada apa yang dipersoalkan oleh si pemohon.

“Mungkin saja, kita nanti sangat tergantung pada apa sih yang dipersoalkan dan apakah dasar-dasar yang dipersoalkan,” paparnya.

Menurut Hamdan Zoelva, nantinya semua keputusan MK akan tergantung pada apa yang dipersoalkan serta dalil apa untuk membuktikan adanya persoalan tersebut.

“Jadi sangat tergantung betul pada apa yang dipersoalkan dan dalil-dalilnya dan itu bisa dibuktikan, sesuai dengan standar tentu, pembuktian yang ada,” ungkap dia.

Tak hanya itu, dalam pemaparannya, Hamdan Zoelva juga sebelumnya menyebutkan, bukti gugatan kubu Prabowo – Sandiaga bisa saja diterima oleh MK meski sebelumnya sempat ditolak oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya MK sempat menolak bukti kubu 02 yang berupa hasil print out berita online terkait adanya kecurangan pemilu. Atas kasus tersebut, Hamdan Zoelva mengatakan, bukti tersebut bisa saja diajukan kembali oleh MK.

“Sekali lagi sangat tergantung pada dalil yang diajukan di sana di Mahkamah Konstitusi. Apakah itu diajukan ke Bawaslu, tentu bisa saja diajukan lagi ke Mahkamah Konstitusi,” tegasnya.

“Jadi hal yang terpenting adalah apa yang menjadi dasar permohonan dan dalil-dalil permohonan. Kalau apa yang sudah diajukan di Bawaslu, akan diajukan lagi di Mahkamah Konstitusi itu hal yang mungkin saja,” sambungnya.

Hamdan Zoelva menambahkan, jika gugatan sudah diajukan ke MK, maka prosesnya bisa dilihat pada sidang terbuka. “Dan itu diajukan kembali ke MK saja biarkan saja nanti sidang itu terbuka, dan dinilai secara bersama-sama dan biar proses itu berjalan di sana,” tandasnya. (lin/kpc/tbc/lin)

 

sumber: kaltim.tribunnews.com/wartakota.tribunnews.com

LEAVE A REPLY