para kartunis Indonesia di Malaysia

Kartun Majalah Gila-Gila yang terkenal ketika era 70-an dan pernah menjadi pemimpin humoris nasional pertama dan masih tetap menjadi berita hangat selama 40 tahun.

Bersamaan dengan HUT ke-40 Majalah Gila Gila ,  Rumah Kartun dan Komik Malaysi(RKKM) juga dengan Asosiasi Animasi Malaysia (ANIMAS) mendukung Cartoon Talk And Comic Walking pada Kartun dan Sejarah Komik Malaysia menggelar pameran dan seminar kartun, acara ini diselenggarakan bersamaan dengan pameran ‘Kartun dan Kita’ di Museum Nasional, dan bersamaan dengan Hari Kartunis Malaysia 1 April 2018, bertempat di Muzium Negara, Kuala Lumpur Malaysia.

Tiga kartunis dari Indonesia turut menghadiri pameran kartunis ini, Muhammad Sjaifudin Hasan(ipoet), Joko Luwarso Suharsono dan Rubowo Priyanto Soemasno(Jan Praba)

Komik Gila-Gila pernah berjaya memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan banyak orang. Bahkan,  majalah terbanyak dibaca dibandingkan semua majalah yang diterbitkan di Malaysia.

Presiden ANIMAS, Amir Hamzah Hashim mengatakan,“Acara ini diselenggarakan untuk tujuan menarik sejarah komik kartun dan majalah tanah air, merayakan hari kartunis, berbagi ide untuk kelanjutan publikasi saat ini dan menggambar tentang perjalanan masa depan.”

Dan melalui acara ini, RKKM dan ANIMAS mengharapkan membangkitkan kembali dan menghasilkan karya keberlanjutan kartun, komik dan industri animasi negara.

Menteri Komunikasi dan Multimedia, Datuk Seri Dr. Mohd. Salleh Said Keruak,  Rossem kartunis dari Kota Bharu Kelantan bersama Omar dari perkumpulan kartunis Malaysia yang mensponsori dan mempercayakan Adeline Travel, Biro Travel dari Indonesiauntuk diperbantukan memandu delegasi kartunis indonesiaturuthadir meramaikan acara ini juga panelis para pendiri majalah gila-gila termasuk Direktur Pelaksana Jaafar Taib. Pameran ini sangat baik karena memberi peluang generasi muda mengenali tentang sejarah komik kartun di negara ini.

“Sama seperti majalah kartun, akan berubah mengikut media. Generasi sekarang tidak gemar lagi akan media kertas. Mereka lebih menyenangi karya elektronik seperti animasi atau permainan digital,” tutup Jaafar Taib.

LEAVE A REPLY