Wakil Ketua DPR Fadli Zon dari Fraksi Gerindra

Habib Bahar bin Smith saat menjadi pembicara dalam acara Reuni Akbar 212 mengaitkan masalah yang sekarang telah menimpa dirinya. Sebelumnya, Habib Bahar dilaporkan kepihak kepolisian lantaran dalam ceramahnya mengatakan Presiden Joko Widodo banci.

Dalam hal ini, Habib Bahar mengatakan ketika 411 aksi 411 jutaan umat Islam, ribuan ulama untuk minta keadilan dan penegakan hukum kepada penista agama justru para ulama, para habib, para kiai, para santri dikenakan gas air mata dan presidennya kabur dan lari saudara-saudara.

“Sesama umat Islam itu didzalami dan dikriminalisasi. Yang kedua, kenapa saya katakan dia penghianat bangsa karena melihat masih banyak rakyat yang susah, rakyat yang kelaparan, rakyat yang kehausan di saat para pemimpin hidup kenyang,” papar Habib Bahar di panggung reuninya alumni 212, Jakarta, Minggu (2/12).

Habib Bahar juga mengatakan jika dirinya dilaporkan kepada pihak kepolisian dan didesak untuk meminta maaf. Dirinya menolak untuk meminta maaf. “Saya sampaikan kepada kalian yang melaporkan saya, jika kalau bagi kalian itu adalah suatu kesalahan, demi Allah saya Bahar bin Smith tidak akan pernah meminta maaf dari kesalahan itu,” kata Habib Bahar

Selain itu, Habib Bahar juga mengatakan ia lebih memilih busuk di dalam penjara daripada meminta maaf atas ucapannya tersebut. “Pendukung Joko Widodo mendesak Habib minta maaf, Tidak! Saya lebih memilih busuk dalam penjara dari pada harus minta maaf,” imbuh Habib Bahar

Habib Bahar (tengah) saat turun panggung reuni 212. foto: internet

Jika ditangkap, lanjut Habib Bahar, kepada seluruh peserta Reuni Alumni 212  jangan pernah padamkan api perjuangan yang selama ini dibangun bersama umat Islam. “Jika dalam beberapa hari ke depan saya ditangkap kareba bela rakyat susah dan kelaparan. Berjanjilah kalian, jangan pernah padamkan api perjuangan. Siap teruskan perjuangan? Allahu akbar,” tandas Habib Bahar.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengaku tidak bisa memaksakan Habib Bahar untuk meminta maaf. Sebab, itu merupakan hak pribadi dari yang bersangkutan. “Itu kan hak pribadi. Jadi kalau yang bersangkutan merasa dirinya benar, dan dia tidak mau minta maaf, ya, mau bilang apa?” kata Fadli di gedung DPR, Jakarta, Senin (3/12).

Habib Bahar, kata Fadli, tentu memiliki alasan-alasan yang kuat dalam menyampaikan sesuatu. Dia meyakini bahwa pernyataan Habib Bahar itu tentu diletakkan sesuai konteksnya. “Dia tentu mempunyai alasan-alasan yang kuat, dan saya kira dia memang mempunyai alasan yang kuat karena harus diletakkan itu pada konteksnya,” katanya.

Menurut Fadli, apa yang disampaikan Habib Bahar itu dalam konteks kejadian dua tahun lalu atau peristiwa Aksi 411, November 2016. “Jadi, menurut saya, dia ini punya hak untuk bersikap. Apa pun sikapnya, tentu setiap sikap ada konsekuensi,” ujarnya.

Fadli menilai Habib Bahar adalah sosok yang cerdas, dan memang seorang orator yang berani. “Jadi saya yakin kalau dia nanti dilakukan kriminalisasi dengan tidak adil, ya yang akan rugi juga wajah hukum kita,” kata wakil ketua umum Partai Gerindra.

Dia mengaku tidak dalam posisi membela Habib Bahar secara personal. Namun, Fadli menegaskan bahwa yang dibelanya adalah demokrasi. Sebab, di negara demokrasi orang bebas menyatakan pendapat.

“Coba lihat deh negara demokrasi, mau pakai standar demokrasi negara mana? Amerika, Inggris, atau apa? Masa begitu saja langsung hate spech. Saya kira biasa-biasa saja, tidak usah terlalu bawa perasaan atau lebai ya?,” katanya sambil memberi contoh dirinya saja setiap hari dirundung oleh akun-akun anonim.

“Masa saya harus laporkan akun-akun anonim yang mem-bully saya? Ya kami anggap aja itu vitamin, kalau keterlaluan ya tinggal blokir. Tidak usah pusing,” kata Fadli. (jpn/lin)

LEAVE A REPLY