Produksi NEO Theatre Indonesia pada Festival Teater Wahyu Sihombing, di gedung teater luwes IKJ, akhir pekan kemarin

Enam Pertunjukan dengan berbagai esensi dan tema sosial, dari enam perempuan sebagai tokoh utama dari enam lakon yang telah dipagelarkan oleh enam Grup Teater peserta Festival Teater Wahyu Sihombing 2017.

Cukup bervariasi dalam pertunjukannya. Enak Ditonton dan segar sebagai suatu tontonan yang reflektif. Yah, cukup mempesona sebagai suatu tontonan yang mengusung realisme secara rinci baik menjabarkan cerita dari lakon yang disajikan. Penggarapan penyutradraan yang detail dan membangun karakterisasi penokohan para pemain yang intesitas pemeranannya harus tetap terjaga.

Institut Kesenian Jakarta telah menggelar Festival Teater Wahyu Sihombing di Gedung Teater Luwes IKJ Jakarta, 24-29 Juli 2017. Festival ini digelar sebagai bentuk penghargaan atas jasa Wahyu Sihombing terhadap perkembangan teater di Indonesia. “Ini untuk mengingatkan kita kepada sosok Wahyu Sihombing”, kata Rektor IKJ, Seno Gumira Ajidarma, di Gedung Teater Luwes IKJ Jakarta, saat pembukaan Festival Teater Wahyu Sihombing.

Wahyu Sihombing adalah salah satu sosok penting yang mengguratkan jejak tajam pada persemaian teater di Jakarta yang sebaran pengaruhnya kemudian meluas hingga ke berbagai daerah di Indonesia. Beliau juga dikenal di dunia perfilman dan sinetron sebagai sutradara yang diperhitungkan. Wahyu Sihombing merupakan sutradara legendaris Indonesia yang hidup pada 1933-1989. Pria kelahiran Tapanuli Utara, Sumatera Utara, adalah salah seorang pendiri IKJ.

Wahyu Sihombing juga dikenal sebagai penggagas Festival Teater Remaja-kini Festival Teater Jakarta- yang pertama kali digelar pada 1973. Wahyu Sihombing adalah penganut setia mazhab realisme dalam teater. Pendekatannya itu selalu dipakai dalam pementasan dan pendidikan teater.

Menurut Seno, Festival Teater Wahyu Sihombing sekaligus menjadi pengingat kepada para pegiat teater supaya pertunjukan mereka kembali ke pemikiran awal, yakni realisme yang telah dikembangkan Wahyu Sihombing. “Sebaru apapun teater, dia harus dimulai dari awal, ujarnya. Ibarat menggambar, jangan langsung abstrak. Gambar tangan dulu bisa atau enggak?”.

Selain untuk mengenang jasa Wahyu Sihombing, festival teater ini, juga menjadi salah satu kegiatan untuk menyambut Dies Natalis IKJ ke-47 tahun ini dan 50 tahun IKJ pada 2020 nanti. Ini adalah langkah pertama untuk urusan Dies, ucap Seno. Program 50 tahun IKJ yang telah dimulai dari festival ini.

Festival Teater Wahyu Sihombing yang telah diikuti oleh enam kelompok yang menampilkan teater realisme. Enak kelompok teater itu adalah Teater Lembaga dan Teater Aristokrat dari Jakarta, Teater Bel dan Neo Teater dari Bandung, Saturday Acting Club dari Yogyakarta, dan Teater Satu dari Lampung.

Wahyu Sihombing adalah penganut mazhab realism teater yang pendekatannya tersebut selalu digunakannya dalam menangani pementasan teater dan menjadi pokok dalam pendidikan teater di IKJ yang utamanya untuk mata kuliah penyutradaraan dan seni peran.

Wahyu Sihombing terkenal dengan teori beat yang bertumpu pada frasa yang diawali dengan kata kerja sebagai pegangan para pemain dalam mengolah pikiran dan perasaan karakter yang dimainkan yang selanjutnya termainifestasikan secara fisik. Teori ini pula yang diterapkan Wahyu Sihombing tidak hanya di pentas teater tetapi juga di film, termasuk sinetron.erawat Asa Teater Realis Indonesia.

Kemalsyah terima kasih atas infonya tentang Festival Teater Wahyu Sihombing, bahwa masih ada insan teater yang mengenang tokoh teater Indonesia, mudah2an tidak berhenti tapi berlanjut ketokoh lainnya seperti Rendra, teguh k, Arifi C Noor dll. (kem/lin)

LEAVE A REPLY