salah satu adegan dari latihan teater produk Teater Stasiun

Djakarta Teater Platform (DTP) untuk keempat kalinya kembali diselenggarakan, awal 2018 ini. Program Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini, mementaskan Memori Disorder produksi Teater Stasiun, Minggu (28/1), pukul 14.00 WIB (Pelajar) dan pukul 20.00 WIB (Umum).

Seperti diketahui, Komite Teater DKI (Afrizal Malna, Adinda Luthvianti, Budi Sobar, dan Rita Matumona) telah menggulirkan sejak 2017 dengan menampilkan 3 teater, Teater Payung Hitam, Teater Poros, dan Bandar Teater Jakarta. Masih dengan gagasan yang sama, program ini mencoba menjawab kebutuhan adanya platform untuk teater mendapatkan putaran balik antara gagasan, produk-produk intelektual masa kini, respon publik maupun pasar sebagai basis penciptaan dan didistribusi kembali ke dalam putaran balik ini.

Melanjutkan edisi sebelumnya, DTP kali ini menampilkan karya/sutradara Ediyan Munaedi dengan judul Memori Disorder. Memori Disorder bercerita tentang tiga orang tua yang mengalami peristiwa traumatik pada saat masa mudanya. Ketiganya bersahabat dan memiliki masa lalu berbeda. Ketiganya juga ingin menyelesaikan persoalannya pada masa tuanya.

“Teater Stasiun kali ini mencoba mensinergikan antara tubuh aktor, tubuh boneka dan topeng sebagai salah satu penyimpan memori. Mereka akan berkolaborasi mengungkap memori-memori tersembunyi,” ujar Ediyan, saat melalui ponselnya, Selasa (23/1).

Mengenai apa yang disampaikan oleh pertunjukan Memori Disorder, Edian melanjutkan,pertunjukan ini tidak membicarakan soal Timor Timur. Peristiwa operasi militer di Timor Timur hanya menjadi bagian dari sejarah kelam kerabat dekatnya yang justru tidak terlalu memusingkan perkara Timor Timur.

“Teater Stasiun yang berkerja hampir 1 tahun untuk mewujudkan pertunjukan ini, juga menggunakan media penopang untuk mewujudkannya (arsip video, musik digital, video mapping). Penggunaan media ini bisa menggantikan unsur “cermin” yang tidak hadir sebagai bagian dari representasi rumit dalam mata rantai “aku” dan “aku-yang-lain” (topeng, boneka,
cermin),” tulis Afrizal Malna, Ketua Komite Teater DKJ dalam esai kuratorialnya untuk pertunjukan Teater Stasiun ini.

Teater Stasiun berdiri sejak tahun 1993 atas prakarsa para aktifis Karang Taruna Kelurahan Angke. Nama stasiun diambil karena kedekatan tempat tinggal anggotanya dari Stasiun Angke, Jakarta Barat. Selain pernah menjadi juara umum pada Festival Teater Karang Taruna se- Jakarta Barat tahun 1993, Teater Stasiun pada tanggal 11 April 1996 juga dinobatkan sebagai “grup senior” karena sudah berhasil selama tiga kali berturut-turut sejak tahun 1994, 1995
dan 1996 menjadi pemenang pada Festival Teater Jakarta tingkat DKI Jakarta.

Djakarta Teater Platform (dengan huruf D di depan, untuk merawat memori kolektif kita tentang Djakarta) diharapkan dapat menjadi sebuah laboratorium bersama sekaligus menjadi ruang belajar untuk bagaimana teater “dipertaruhkan” dalam medan politik budaya di sekitarnya. (lin)

Diskusi Biografi Penciptaan
Sabtu, 27 Januari 2018
Pukul 16.00 WIB

Gedung Kesenian Jakarta.

Pertunjukan Teater
Minggu, 28 Januari 2018
Pukul 14.00 WIB (Pelajar)
Pukul 20.00 WIB (Umum)

Karya & Sutradara: Edian Munaedi

Staff Produksi:

Pimpinan Produksi: Nega Yoselina Banuampu
Stage Manager : Doni Lazuardi
Keuangan : Trisfahilda
Penata Lighting : Mamet SLasov
Penata Musik : Budi Sadewo
Penata Bunyi : Sentanu
Penata Kostum,
MakeUp &
Disain Grafis : Anggun Anggendari
Penata Videografi: Daeng Haris & Silmi Rahmadi
Penata Artistik,
Pembuat Boneka &
Topeng : Edmun

Pemain:

Bram : Joind Bayuwinanda

Merry : Anggun Anggendari

Bardi : Indra Prasto

LEAVE A REPLY