Suryadi menggendong jenazah keponakannya karena puskesmas menolak memberikan ambulan dengan alasan SOP. foto: internet

Wali kota Tangerang Arief Wismansyah melakukan takziah ke rumah almarhum Husein untuk sekaligus memohon maaf kepada keluarga almarhum atas terjadinya ambulan pihak puskesmas yang menolak mengantarkan jenazah Husein dengan alasan SOP, yaitu ambulan hanya untuk orang sakit alias pasien bukan jenazah.

“Saya pribadi dan atas nama pimpinan kota Tangerang menyampaikan permohon maaf atas kekurangsigapan petugas puskesmas. ,” ujar Arief saat diwawancara presenter Putri Viola dalam program Apa Kabar Malam TV1, Minggu malam (25/8/2019).

Arief juga memberikan teguran langsung serta memerintahkan pembenahan pada SOP pelayanan di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, terutama puskesmas untuk mengedepankan hal-hal yang bersifat gawat darurat atas dasar kemanusiaan.

“Semoga masalah ini tidak terulang lagi. Intinya mau peraturan apapun, utamakan sifat kemanusiaan. Saya bisa merasakan sendiri, bagaimana kalau yang dialami keluarga almarhum menimpa keluarga saya.

Dia memahami Dinkes Kota Tangerang bertugas sesuai SOP yang terkait pengadaan ambulan dan adanya aturan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 43 Tahun 2001. “Tapi ini sifatnya gawat darurat,” ujar Wali kota termuda.

SOP itu, lanjut dia, telah diubah agar petugas kesehatan di puskesmas bisa cepat bertindak atas bentuk musibah, seperti kecelakaan dan lainnya bisa tanggulangi. “Memang ada call center ambulan 119, terus ada di setiap puskesmas. Baik mobil ambulan maupun kereta jenazah,” ungkapnya.

Dia pun menyayangkan dan langsung berempati lebih agar pemerintah kota bisa lebih melayani atas tindakan musibah ini. “Untuk itu, kami langsuang melakukan revisi SOP dengan memperhatikan untuk yang sifatnya ketergawatan bisa cepat sigap mengatasinya,” tuturnya.

Terus terang ini jadi pembelajaran. “Saya koordinasikan kepada puskesmas, kelurahan, kalau ada kegawatdaruratan bertindak sigap. Sebenarnya ada UU Otonomi daerah yang tidak kaku pada Permenkes. Jadi bisa merespon kebutuhan masyarakat, sehingga tidak terjadi hal ini,” keluhnya.

Hasil revisi SOP itu, kata Arief, langsung disosialisasikan mulai besok ke seluruh puskesmas, kelurahan hingga kecamatan. “Tidak saja terkait SOP, tapi berikut kendaraannya atau kelengkapan ambulan,” terangnya.

Arief pun mengaku prihatin sekaligus malu. “Saya bisa merasakan bagaimana keluarga almarhum yang mendapat musibah keluarganya tenggalam dan buru-buru harus diantar ke rumah. Pasti panik, tapi menghadapi situasi tidak mengenakan. Apalagi ada tetangga yang membantu mengantarkan jenazah sampai rumah. Saya malu sekali,” ulangnya.

Sebelumnya viral video seorang ayah yang belakangan diketahui paman dari jenazah Muhammad Husein (8) yang meninggal akibat tenggalam di sungai Cisadane terpaksa menggendong jenazahsetelah Puskesmas Cikokol menolak mengantar jenazah menggunakan ambulans. Husein merupakan salah satu dari korban tenggelam di Sungai Cisadane pada Jumat 23 Agustus 2019, petang.

Jasad Husein dibawa ke puskesmas Cikokol oleh keluarganya dengan maksud mengantar jenazah ke rumah duka di Kampung Kelapa Kota Tangerang menggunakan ambulans puskesmas. Sayangnya, pihak puskemas menolak melayani pengantaran jenazah menggunakan ambulans.

Salah satu petugas puskesmas mengatakan bahwa penggunaan mobil ambulans hanya untuk mengangkut pasien sakit. Hal tersebut sudah menjadi standar operasi prosedur (SOP) dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

“Ini sudah menjadi SOP dari Dinas Kesehatan. Ambulans puskesmas hanya untuk mengangkut pasien,” kata Suryadi menirukan petugas puskesmas.

Selama kurang lebih satu jam terlantar, Suryadi terpaksa menggendong jenazah Husein dan berjalan kaki. Hingga akhirnya seorang warga yang melihat kejadian tersebut memberikan tumpangan kepada keluarga Husein.

Namun di program Apa Kabar Malam Tv1 bersama pembawa berita Putri Viola Suryadi mengaku, puskesmas sudah membantunya. Di mana pihak puskesmas mengarah call center-call center ambulan.

“Sempat ada yang terima sambungan dengan menyebut, dengan ambulan gratis Kota Tangerang. Tapi karena sinyal kurang bagus, pembicraan kami terputus. Saya lari ke sana kemari cari sinyal, terus terlepon lagi dan terputus lagi. Ada tiga kali dihubungi masih terputus, akhirnya saya putuskan untuk stop menghubungi kembali,” terangnya.

Diakui kepada Putri Viola bahwa dari puskesmas tidak ada upaya membantu untuk menelepon pihak ambulan. “Puskesmasbantu saya, hanya hape yang saya pakai milik adik saya. Jadi saya minta tolong padanya dengan menemui pihak Puskesmas. Nah, saya tidak tahu di dalam puskesmas ngapai saja,” tutupnya. (net/lin)

sumber: WAG Jurnalis Kemenag dan BMC

LEAVE A REPLY