Di Balik Polemik Agnez MO

Opini by Zeng Wei Jian

Seharian mencari tau indepth. Seputar polemik Agnez Mo dan para haters pembully. Tetap ngga nemu salahnya.

Medsos penuh hatespeech. Slogan “Usir Cina” dirilis. Meme diproduksi. Ada kata “Betina Cina”. Hanya dua orang Tionghoa yang akan selamet; Lieus Sungkharisma dan Hong-gie Yap.

Sebabnya dua orang ini ikut dalam aruz serang Agnez Mo.

Lieus Sungkharisma menyarankan; Agnez Mo jangan jadi kacang lupa kulit. Mentang-mentang sudah Go International. Hong-gie Yap berseru; Cabut kewarga-negaraan dan cekal Agnez Mo. Gile, radikal banget.

Haters bangun narasi; Agnez Mo malu mengakui diri sebagai Orang Indonesia dan merasa superior dibanding yang lain.

Padahal the gist dari semua uraian Agnez Mo; A Christian minority singer who has tons of moslem fans. Indonesia negeri luar biasa dengan 18 ribu pulau dan sejuta diversity.

Rata-rata, jika ngga semua, yang menghujat Agnez Mo ternyata kurang fasih berbahasa Inggris. “Indonesian blood” ditranslate menjadi “Orang Indonesia” dan WNI.

Mereka mengidap penyakit “confirmation bias”. Selalu ada closing di akhir caci-maki bahwa sedari dulu mereka memang sudah ngga suka Agnez Mo.

Polemik “Indonesian blood” berfungsi sebagai legitimasi dan pembenaran kebencian itu. Setelah baca ini, niscaya mereka ubah taktis dengan menyatakan, “tadinya suka Agnez Mo, sekarang tidak lagi”.

Sebagian haters menyatakan Agnez Mo sombong. Gesture dan intonasi dimasalahin.

Hong-gie Yap tandas menyatakan, “Jangan cuma terjemahkan wawancara AGMO pemahaman terbatas tapi dengar dong narasi dan intonasi suaranya yang jelas-jelas mengatakan dia bukan bagian dari Bangsa Indonesia”.

Ngeri statement ini. Anasir sangat alus diminta dikonfirmasi. Saking alus, jadinya subjektif. Sehingga ngga bisa dijadikan landasan di muka hukum.

Sombong itu relative. It is not a crime. Seorang pendiam bisa dianggap sombong. Padahal sedang grogi dan kikuk atau mulez.

Semua orang punya body rhythm particular. You & me berlainan. Karena itu everybody is unique. Agnez Mo juga begitu.

Bagian terakhir dari para haters adalah pendengki. Mereka sirik. Mereka ingin menggantikan Agnez Mo sebagai bintang iklan.

Sedangkan penghujat berethik Tionghoa punya motif memposisikan diri sebagai “A good chinese” dengan menempatkan Agnez Mo sebagai contoh “A terrible Chinese”. That’s the price of their thirst for fame & recognition.

Apabila gerakan bully Agnez Mo mencapai kulminasi menjadi racial hatred, maka Penegak hukum harus bertindak. Comot para provokator dan redam.

 

THE END

LEAVE A REPLY