Demi Tahta Kekuasaan

Opini oleh Felix Siauw

Sulit untuk tidak memberikan prasangka bahwa syahwat kekuasaanlah yang lebih nyata dari segala-galanya. Bahwa tahta dan jabatan, itu yang jadi pertimbangan utama.

Kok bisa unjuk rasa, aksi, demo atau apalah namanya, yang sebenarnya hanya keinginan diperhatikan penguasa, lebih heboh pengamanannya dibanding pembunuhan massal?

Di Wamena, Papua, kita mendengar dan melihat melalui media sosial, keadaan yang sangat mencekam, pembakaran, pembunuhan, pembantaian, makar dan pemberontakan.

Tapi kita tak melihat tank dan pesawat tempur, lengkap dengan tentara dan aparat bersenjata yang seserius di ibukota, atau penanganan se-“kejam” di ibukota

Padahal di sana, mereka bersenjata, dari panah, tombak, parang, hingga senjata api. Membantai mulai dari ojek hingga dokter, sadis dan brutal sejadi-jadinya

Di sini, hanya anak-anak STM yang khawatir bukunya basah, remaja yang terganggu sensitifitas keadilannya. Dan kakak-kakak mahasiswa mereka yang ingin berdiskusi.

Mereka tak membawa senjata kecuali kata, tak ingin lakukan kekerasan selain sumbang pikiran. Tapi sekali lagi, ini semua dihadapi penguasa seperti level perang dunia

Entah kemana yang teriak NKRI harga mati, Jangan Suriahkan Indonesia, Muslim itu sebab radikal dan Intoleransi, Begitu soal Papua, semua diam tak Bicara.

Kini semua tau, radikalisme, intoleransi, ekstrimisme, terorisme dan semacamnya, hanya jualan orang-orang tertentu, untuk menyembunyikan kejahatan mereka.

Sekarang semua juga tahu, hanya Islam yang serius dalam menata kemanusiaan, persatuan, kepemimpinan, dan juga keadilan sosiall, sebab Islam itu rahmat.

Benarlah Rasulullah, sebaik-baik penguasa adalah yang kita cintai dan dia mencintai kita. Bukan yang mengorbankan, atau mendiamkan korban, dan lebih khawatir tahtanya. ***

 

Sumber: WA Grup Rakyat Bergerak

LEAVE A REPLY