Kepala Satuan Kerja Keuangan dan Perancangan Perusahan BCA Syariah Pranata Nazamudin. foto: heryanto

Bank BCA Syariah menyelenggarakan kegiatan edukasi dari Program CSR (Corporate Social Responsibility) berupa Pelatihan wartawan Membaca Laporan Keuangan Bank Syariah di gedung BCA Syariah Pusat, kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (25/10). Puluhan perwakilan media cetak maupun online antusias mengikuti pemateri dari internal BCA Syariah, Pranata Nazamuddin.

Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih mengatakan, dalam program CSR BCA Syariah ada tiga pilar. Pertama Peduli Sosial berisi layanan kesehatan, Peduli Sejahtera yang focus peningkatan perekonomian masyarakat kecil dan UKM, dan Peduli Prestasi terkait gathering dan pelatihan. Istilah yang dipakai BCA Syariah adalah Peduli Prestasi melipti pendidikan, pelatihan, seminar, dan yang lainnya.

“Pelatihan ini, merupakan bagian dari program Corporate Social Responaibility BCA Syariah khususnya pilar Peduli Prestasi yang fokus pada pendidikan dan peningkatan keterampilan, sekaligus sebagai bentuk sinergi antara pelaku perbankan syariah dan media dalam mendidik pertumbuhan industri keuangan syariah,” kata John dalam sambutan membuka pelatihan.

Adapun yang menjadi fokus perhatian BCA Syariah Peduli seiring program Nawacita Presiden Jokowi Nomor 5,6, dan 7, yaitu sisi pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Untuk bidang pendidikan, lanjut John, BCA Syariah Peduli ikut serta memberikan beasiswa, membantu pengadaan perpustakaan atau buku-bukunya dan membantu pembuatan atau perbaikan bangunannya.

“Ini semata-mata untuk menanamkan pengetahuan pada masyarakat, khususnya pada anak-anak pelajar bahwa ekonomi keuangan syariah itu sangatlah penting keberadaannya bagi perkembangan generasi Indonesia yang lebih baik. Karena di dalam prakteknya penuh dengan nilai-nilai keislaman,” terangnya.

Kemudian, lanjut John, Peduli Kesejahteraan terdiri dari bantuan dana bergulir untuk para pengusaha pemula dan yang sudah berjalan, dan seterusnya. Terakhir Peduli Sosial berisi kesehatan, seperti donor darah. Lalu Lingkungan, yaitu tanam pohon, dan Musibah terkait bantuan gempa Lombok, tsunami Palu, dan yang lainnya.

“Dana yang digunakan untuk CSR itu merupakan hasil dari dana-dana yang tak wajar. Misalnya dari denda berupa telat bayar ansuran bulanan, dan dari pintu-pintu lainnya, seperti zakat para direksi dan karyawan BCA Syariah. Yang sifatnya bukan paksaan, tapi keikhlasan,” ungkap John dalam membuka acara.

Sedangkan untuk program kesejahteraan, BCA Syariah mempunyai dana bergulir yang diberikan ke masyarakat tanpa ada marjin. “Kita berikan maksimal 10 juta untuk modal awal usaha dan hanya diminta kembalikan modalnya saja. Tidak dipungut marjinnya. Cukup modalnya saja kembalikan,” tegasnya.

Karena dana ini masih terbatas, kata dia, pengaplikasiannya dibantu pihak ketiga. Misalnya ada kelompok nelayan yang dinaungi satu perseroan terbatas (PT) atau yayasan, BCA Syariah bekerja sama dengan lembaga itu.

“Tujuanya nelayan yang ingin mengembangkan usahanya memincam ke bank lalu pertanggungjawaban pengembalian dana perbulannya dijamin oleh lembaga tersebut. Artinya lembaga itu bisa memastikan kalau sang nelayan ini mengembalikan dana yang dipinjam tersebut. Kita kan gak bisa langsung menagih ke masyarakat (nelayan) tersebut untuk bayar tiap bulannya. Jadi pihak ketiga inilah yang bertanggungjawab,” pungkasnya.

Kepala Satuan Kerja Keuangan dan Perancangan Perusahan BCA Syariah Pranata Nazamudin menambahkan, bank syariah itu berbasis akad yang kelompoknya jual beli dan bagi hasil. Materi yang diberikan mulai dari pengetahuan dasar mengenai laporan keuangan membaca kinerja perusahan dari laporan keuangan publikasi serta memahami rasio-rasio keuangan.

Kegiatan-kegiataan edukasi, kata dia, untuk meningkatkan literasi mengenai perbankan syariah secara berkesinambungan juga dilakukan melalui kegiatan BCA Syariah mengajar kepada pelajar mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

“Selama 2018 kegiatan BCA Syariah memberikan pelatihan yang menjangkau setidaknya 600 siswa dari 12 sekolah yang berlokasi di Jabodetabek, Surabaya, Malang, Palembang, dan Medan,” ungkapnya.

Tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah, nilai dia, menjadi faktor penting untuk mendorong perkembangan keuangan syariah di Indonesia. “Kegiatan edukasi telah menjadi program yang akan kami lakukan secara berkesinambungan untuk mendukung pertumbuhan industri,” jelasnya.

Berdasarkan hasil survei literasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016, kutip John, indeks inklusi keuangan syariah sebesar 11.06%. Lebih tinggi dibandingkan indeks literasi sebesar 8.11 persen.

“Hal ini menunjukan bahwa masyarakat sudah menggunakan produk keuangan syariah walaupun belum memahami secara komprehensif tentang fitur produk kemanfaatan serta risiko produk dan jasa keuangan syariah,” paparnya.

“Dengan kegiatan edukasi ini, kami ingin masyarakat bisa mengenal bank syariah itu sama bagusnya dengan bank konvensional sama lengkapnya dan modernnya, sehingga menjadikan bank syariah bagian dari lifestyle masyarakat,” tutupnya. (lin)

LEAVE A REPLY