salah satu adegan dari latihan teater produk Teater Stasiun

MEMO-
RI
DIS-
ORDER

Catatan SUTRADARA:

Tahun 2015, ketika istri tercintanya meninggal, ia sangat terpukul. Begitu beliau masih mampu menyembunyikan goncangan batinnya. Hari ketujuh selepas wafatnya istri tercinta, lelaki mantan tentara yang pernahbertugas di Timor Timur (Tmtim) dalam Operasi Seroja ini mulai mengalami perubahan prilaku.

Beliau menjadi sering ketakutan, terutama menjelang malam hingga pagi hari. Ia merasa sangat cemas dan sering diikuti bayang-bayang. Bahkan menurutnya, sering juga bayang-bayang itu disertai dengan suara-suara yang tidak jelas. Itu terjadi hingga beliaudipanggil Yang Maha Kuasa (2017).

Peristiwa yang dialami orang yang terdekat dengan kami itu menarik keingintahuan saya untuk mempelajari kenapa bisa sampai terjadi seperti itu?! Apa yang melatari perubahan drastis prilaku orang yang kami hormati dan sayangi itu. Gejala-gejala ini coba saya telusuri melalui ragam referensi termasuk berdiskusi dengan teman-teman, googling hingga saya dan teman-teman mengunjungi sebuah Rumah PantiSosial Tresna Werdha di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Dari semua cara penelusuran itulah kami (saya dan teman-teman Teater Stasiun) menemukan istilah “DISORDER”. Sebuah istilah kedokteran terkait dengan kekacauan berfikir yang tak terkendali.

Melalui data dari ragam referensi dan observasi yang kami kumpulkan, kemudian saya mencoba merangkai dan mempertemukan tokoh-tokoh dari situasi dan tempatberbeda menjadi sebuah narasi beralur.Tentu saja, narasi (naskah) ini bukanlah cerita yang saya angkat dari kisah nyata (seperti yang dialami oleh orang terdekat saya di atas), naskah ini sesungguhnya bercerita tentang kisah-kisah yang tercecer dari gejala disorder yang terjadi pada beberapa orang tua yang kesepian.

Jadi, cerita ini bukan hanya cerita saya, ini mungkin saja tentangkita. Sebab menjadi tua adalah kepastian. Masa lalu menjadi bagian yang takterpisahkan dari hidup kita. Ia menempel, melekat erat, menjadi darah danmengalir dalam metabolisme tubuh yang mengantarkan sisa hidup kita ke ujungnya. Masalalu datang dan menyergapsecara tiba-tiba. Ia hadir bisa menyerupai bunyi, bayangbayang, bendabenda, gesekan daun, detak jam, suarasuara aneh, lonceng, hembusanangin, tangis bayi, musik,juga hal-hal lain yang mememori.

Cerita ini berkisah tentang tiga orang tua yang mengalami peristiwatraumatic pada saat masa mudanya. Ketiganya bersahabat. Ketiganyamempunyai masa lalu yang berbeda. Ketiganya ingin menyelesaikanpersoalannya pada masa tuanya.Kisah ini bukan melulu soal peristiwa Timtim, meski ia menjadi bagian dari sedikitlatar kisah hidup tokoh Bram. Ini lebih tentang Bram yang merasa terterorhidupnya setelah ditinggal istri dan anak anak untuk selamanya.

Ini juga cerita tentang Bardi yang introvert dan sering mendapat perlakuan tidak adilsemasa kanak-kanak. Ini pun tentang Merry, perempuan yang hancur masadepannya ketika ia diperkosa Bram lalu hamil. Kenangan masalalu merekaseperti bayang bayang yang selalu muncul bila terkena cahaya.

Bram adalah laki-laki Tua yang kesepian yang hanya ditemani oleh pembantunya Bardi dan boneka mendiang istrinya. Bram memperlakukan boneka layaknya manusia. Ia berbincang, menari, seakan hidupnya normal. Bardi pun harus mengikuti permainan gila Bram, hingga akhirnya Bardi menikmati kegilaan itu.

Kehadiran Merry teman masa remajanya justru malah membongkar memori kelamnya. Merry hadir justru ketika Bram ingin membongkar kesalahan masa lalunya. Meski keangkuhannya coba menahan.

Kali ini Teater Stasiun akan coba mensinergikan antara tubuh aktor, tubuhboneka dan topeng sebagai salah satu penyimpan memori. Mereka akanberkolaborasi mengungkap memori-memori tersembunyi. Kedua tubuh dantopeng yang berbeda sejarah ini akan saling menguatkan.

Disamping bunyibunyi tubuh actor secara langsung, akan ada benda-benda yang datang danpergi. Masing masing akan menjadi penanda dan bersinggungan denganteks – teks yang lain seperti manusia, boneka, topeng, kalimat, cahaya,warna, dan bunyi.

edian munaedi, sutradara teater stasiun
(akhir desember 2017)

Gedung Kesenian Jakarta.

Pertunjukan Teater

Minggu, 28 Januari 2018

Pukul 14.00 WIB (Pelajar)
Pukul 20.00 WIB (Umum)

Karya & Sutradara: Edian Munaedi

Staff Produksi:

Pimpinan Produksi: Nega Yoselina Banuampu
Stage Manager : Doni Lazuardi
Keuangan : Trisfahilda
Penata Lighting : Mamet SLasov
Penata Musik : Budi Sadewo
Penata Bunyi : Sentanu
Penata Kostum,
MakeUp &
Disain Grafis : Anggun Anggendari
Penata Videografi: Daeng Haris & Silmi Rahmadi
Penata Artistik,
Pembuat Boneka &
Topeng : Edmun

LEAVE A REPLY