Pertumbuhan penjualan tersebut disebabkan meningkatnya permintaan produk obat jual bebas atau over the counter (OTC) dengan produk Antimo Group yang ditujukan untuk menyamankan perjalanan.

PT Phapros merupakan salah satu perusahaan yang memiliki fitofarmaka, yaitu obat tradisional dari bahan alami yang disetarakan dengan obat modern. Karena pembuatannya sesuai standar baku ilmiah.

Direktur utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan, bahkan produknya bernama Tensigard merupakan fitofarmaka pertama di Indonesia. Obat tersebut berfungsi untuk mengendalikan tekanan darah.

Produk tersebut salah satu yang akan dikembangkan Phapros ke depannya. Kemudian, kata dia, seiring revolusi industri 4.0, perusahaan tersebut tak hanya bertumpu pada produk konvensional. Mereka mulai melirik produk geoteknologi.

“Kami sudah kerja sama dengan Unair untuk memanfaatkan salah satu sel untuk anti aging. Anti aging ini potensi yang sangat besar karena semua orang ingin tetap sehat dan tetap awet muda,” kata Emmy, panggilan Barokah Sri Utami, di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Sementara untuk pertumbuhan anorganik, anak usaha PT Rajawali Nusantara (RNI) ini akan melakukan aliansi strategis maupun merger dan akuisisi di perusahan yang berkaitan dengan farmasi. “Tahun ini, Phapros mengakuisisi perusahaan farmasi di Bandung, PT Lucas Djaja dan perusahaan entitas anak,” ujarnya.

Dengan akuisisi tersebut, rinci dia, kapasitas produksi Phapros meningkat signifikan. Selain itu, Phapros akan melakukan join venture dengan beberapa industri farmasi di Asia Tenggara. “Inisiatif melakukan akuisisi itu ada, tapi karrna masih dalam tahap evaluasi, kami tidak sebutkan dulu sampai kami berhasil mengakuisisi,” kata Emmy.

Adapun belanja modal perusahaan atau capital expenditure (capex) Phapros tahun depan mencapai Rp 350 miliar. “Untuk pendanaan Phapros akan menerbitkan saham baru. Kami harus cari pendanaan yang lebih produktif,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, dilakukan right issue itu perbankan dan nonperbankan yang dilakukan perusahaan pelat merah ini. “Tapi untuk mencari pendanaan lebih produktif akan ada prosedur yang kami lakukan,” kata Emmy.

Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo menambahkan, aksi korporasi dengan melakukan perdagangan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan bagian dari langkah strategis untuk mengetahui nilai wajar saham.

“Selain itu, hal ini juga menjadi peluang agar ke depannya Phapros dapat membuka akses kepada sumber pendanaan pasar modal yang lebih menguntungkan,” ujarnya.

Produsen obat Antimo ini akan mendorong ekspor tahun depan. Ada beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor, yakni Nigeria hingga Myanmar. Sekarang sudah mengekspor produk ke Filipina dan Kamboja. “Antimo segera mendapatkan izin untuk beredar di Nigeria,” tutupnya. (lin)

LEAVE A REPLY