Menteri Desa dan PDTT Eko Putro Sandjojo usai menyalakan api Mini Calderon yang menandai berakhirnya kirab obor Asian Games seusai mengelilingi kota Sorong

Api obor Asian Games XVIII 2018 tiba di Kota Madya Sorong, Papua Barat, Jumat (28/7)). Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo mendapat giliran untuk melakukan seremoni estafet dengan menyalakan api abadi asal India itu di depan kantor Panglima Komandao Armada 3, Sorong, sekaligus sebagai start kirab obor atau torch relay Asian Games yang mengeliling kota Sorong bersama para atlet, artis Samuel Rizal, polisi, tentara, dan pejabat muspiko Sorong hingga berakhir di kantor Wali Kota Sorong. Ini ditandai dengan menyalakan mini calderong dengan api obor kirab.

Menteri Eko Putro mengatakan, api Asian Games 2018 dibawa kirab mengeliling kota Sorong untuk memperkenalkan pada masyarakat Indonesia khusunya kota Sorong. Eko bersyukur dan berterimakasih atas penyambutan yang luar biasa. Di setiap pinggi jalan yang dilalui, tampak anak-anak sekolah berdiri mengibarkan bendera merah putih dan bendera Asian Games. Begitu juga karyawan kantor-kantor baik swasta maupun negeri ikut ambil bagian.

“Jadi mari sama-sama kita sukseskan Asian Games ini. Antusiasme masyarakat, terutama kota Sorong, ini menunjukkan adanya kebanggaan buat bangsa kita yang dua kali memperingati Asian Games di Indonesia dan ini akan membuat Indonesia lebih dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia,” ujar Eko usai menyalakan api di mini Calderon.

Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo (ketiga dari kanan) sebelum memulai kirab obor Asian Games di gedung Panglima Armada 3 Sorong

Pilihan kota Sorong yang tercatat menjadi tempat torch relay kedua di Provinsi Papua Barat setelah sehari sebelumnya di Raja Ampat, namun ini tidak ada kaitan langsung dengan pengembangan desa. Menurut Eko, Ini lebih sebagai upaya memperkenalkan even terbesar Indonesia.

“Ternyata antusiasme masyarakat luar biasa sekali. Apalagi panglima TNI Angkat Laut, Panglima Angkatan Udara, Kapolres, Kapolda, dan semua jajaran Muspiko ikut berlari. Sehingga semarak sekali,” puji Eko yang juga politisi PKB.

Dirinya sendiri terbawa semangat olehh masyarakat Sorong untuk ikut berlari yang sampai diingatkan bagian protocol. “Ya, saya bisa kelupaan saking semangatnya. Tapi saya dingatkan Walpri (pengawal pribadi) umur dan berat badan saya. Jadi tidak saya tidak semua rute lari kirabnya,” tepisnya.

Adapun alasan filosofi kirab api obor yang dibawa, terus diantar para tokoh kepada oleh atlet-atlet itu, menurut Eko, obor itu sebagai bentuk semangat. “Kemudian semangat itu diestafetkan ke atlet-atlet kita dari seluruh Indonesia. Jadi filosofinya kebersamaan semangat untuk saling berjuang mencapai kemenangan tertinggi,” simpul pria tinggi besar.

Sesuai harapan berdasarkan informasi dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, kutip Eko, paling tidak kita Indonesia bisa menduduki sepuluh besar. “Itu diwakili cabang-cabang olahraga seperti bulutangkis, panahan, angkat besi, pencak silat, dan lainnya yang Indonesia cukup kuat,” rincinya.

Walikota Sorong Lambertus Jitmu menambahkan, pemilihan dua kota di satu Provinsi Papua Barat memang berbeda dengan provinsi lainnya. “Saya harus berterimakasih pada panitia di Jakarta yang telah menerima usulan kota Sorong dan Raja Ampat terpilih menjadi tuan rumah kirab obor Asian Games ini.

Pertumbuhan Ekonomi Sorong

Untuk itu, Lambertus mengimbau kepada semua masyarakat, TNI Polri untuk sama-sama bergandengan tangan bersatu hati menunjukkah bahwa jati diri negara kita, kita siap menerima kepercayaan internasional bahwa Indonesia memang selalu siap sebagai tuan rumah untuk event-event internasional seperti Asian Games.

Selain itu, Lambertus mengajak semua atlet harus siap menang pada cabang-cabang olahraga dipertandingkan. “Pokoknya kami bangga hati. Karena semua provinsi yang akan dilalui obor Asian Games hanya satu malam, sedangkan di Papua sampai dua malam. Di Raja Ampat dan Sorong,” tutupnya.

Menurut Eko, tujuan utama obor Asian Games berkeliling ke seluruh Indonesia ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa betapa besarnya dan luasnya Indonesia. “Salah satu pilihan kota Sorong menjadi tempat persinggahan, karena Sorong ini salah satu kota yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi di Indonesia,yaitu 11,80 persen. Pertumbuhan ini dilihat dari hadirnya fasilitas jasa cukup tinggi. Sorong mengakui tidak punya sumber daya alam cukup, tapi kami punya sumber daya manusia yang sangat handal. Ini ditambah dari sector pariwisata,” tuntasnya. (lin)

LEAVE A REPLY