ilustrasi sastra indonesia

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Keluarga Alumni UGM atau Kagama menggelar Lomba Sastra dan Seni 2017 untuk menggairahkan kembali penciptaan karya sastra dan seni di kalangan masyarakat. Menurut Dekan Wening, sastra dan seni pada masa lalu pernah menjadi garda terdepan pengasah budi, namun tiba-tiba tergantikan oleh kehadiran media massa dalam bentuk sosial media.

“Semoga bisa menggairahkan kembali sesuatu yang hilang, yakni kecintaan masyarakat terhadap sastra dan seni. Karya sastra mengalami penurunan penikmat dibuktikan dengan semakin mengecilnya ketertarikan mahasiswa pada kajian puisi dan prosa,” kata Wening di Kampus UGM, dilansir Antara, akhir pecan Agustus kemarin.

Tema “Revitalisasi Penghargaan Terhadap Perbedaan” sengaja dipilih dalam perlombaan tahun ini. Karena memiliki relevansi untuk mengangkat kembali realitas bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural. Bangsa Indonesia, kata dia, dalam sejarahnya memiliki pengalaman panjang dalam menghargai keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Sehingga semangat ini penting kita tumbuhkan kembali melalui sastra dan seni,” katanya.

Sekretaris Jenderal Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Ari Dwipayana mengatakan dukungan penuh Kagama terhadap perhelatan lomba itu karena sastra dan seni dinilai memiliki harapan besar menghilangkan budaya saling hujat dan fitnah yang rentan menyebabkan perpecahan. “Sastra itu punya kekuatan luar biasa karena mampu memengaruhi atau mengajak orang berpikir tentang sesuatu tanpa harus secara fulgar dikatakan,” kata Ari yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi.

Dengan sentuhan seni dan sastra, nilai dia, perdebatan di ruang publik mampu disajikan secara santun serta memiliki etika dan estetika. “Perdebatan dengan cara-cara yang gaduh jelas tidak akan berdampak terhadap peningkatan kualitas kehidupan kita,” imbuhnya.

Ketua Panitia Lomba Sastra dan Seni 2017, Aprianus Salam mengatakan lomba yang terbuka untuk umum itu mencakup lomba penulisan puisi, lomba penulisan cerita pendek, lomba penulisan kritik sastra, lomba penulisan meme yang seluruhnya harus sudah dipublikasikan di media sosial. Selain itu, ada lomba fotografi, lomba pembuatan film (durasi 10 menit), serta lomba pembuatan profil FIB UGM (durasi 7 menit).

Menurut dia, batas akhir pengumpulan materi lomba jatuh pada 30 September 2017 dan masa penjurian akan dilakukan pada 5-20 Oktober 2017. Sedangkan, pengumuman pemenang lomba akan dilaksanakan pada acara Malam Anugerah Sastra dan Seni ke-4 2017 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM pada 9 November 2017. “Para pemenang lomba akan kami apresiasi dengan sertifikat dan uang tunai Rp5 juta hingga Rp10 juta,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Paripurna mengatakan banyak cara melakukan kritik dalam menyikapi perbedaan. Terkadang, melakukan kritik justru mendapat gugatan dari personal atau lembaga yang dikritik.

Mantan Dekan Fakultas Hukum UGM itu mengaku ada konsekuensi yang harus ditanggung jika melakukan kritik. Celakanya, jika yang mendapat kritik itu tidak suka dengan kritik tersebut sehingga menempuh jalur hukum. “Tetapi kritik melalui karya sastra dan seni, biasanya lebih menyentuh karena menggunakan bahasa yang indah dan rasa yang dalam,” kata Paripurna, baru-baru ini.

Menurutnya, karya sastra dan seni bisa menjadi media yang menarik dalam menyikapi isu perbedaan melalui kritik. Sastra dan seni merupakan aktivitas manusia secara historis dalam mengasah akal budi. “Karya sastra dan seni bisa jadi media kritik tanpa mengundang konflik,” tuturnya.

Kritik melalui sastra dan seni, menurutnya lebih mengena dibanding media lain, seperti media sosial ataupun surat kabar dan pemberitaan publik. Terkadang, orang atau lembaga yang dikritik melalui seni dan sastra akan tertarik sehingga melakukan pembenahan. (cnn/okc/lin)

LEAVE A REPLY